MEDIA19 dot ID

Ajeg Bali untuk Indonesia

Peran Komunitas dalam Perkembangan Seni Rupa Bali

4 min read

KOMUNITAS merupakaan sebuah wadah dari sekelompok individu yang memiliki kesamaan baik pemikiran, kesenangan, ideologi, latar belakang, budaya, maupun kebutuhan kongkret lainnya. Komunitas menjadi medan sosial yang spesifik untuk berinteraksi dan beraksi mengembangkan pemikiran dan gagasan dalam batasan kolektif.

Membahas komunitas dalam medan seni rupa di Bali, tidak bisa dilepaskan dari keberadaan gerakan yang mengawalinya. Komunita yang dimaksud adalah Pita Maha yang didirikan  tahun 1936 oleh Cokorda Gede Sukawati, Gusti Nyoman Lempad, Walter Spies (Jerman), dan  Rudolph Bonet (Belanda). Dalam perjalannya, Pita Maha yang memiliki akar atau gaya klasik tradisional Bali dikolaborasikan dengan sentuhan Barat, sehingga menghasilkan karakter dan ciri lukisan khas pada masa itu.

Sejak saat itu, Komunitas Pita Maha dianggap menjadi pionir dan penanda gerakan seni rupa Bali, dalam peranannya mempromosikan dan mengangkat citra karya dan senimannya. Dalam  perjalanannya banyak penulis dan budayawan yang kebanyakan berasal dari luar negeri mencatat aktivitasnya, sehingga banyak catatan arsip dan  buku beredar tentang Pita Maha.

Setelah era Pita Maha mulai tumbuh komunitas-komunitas seni rupa sebagai wadah sosial dalam pergerakan seni rupa di Bali yang memunculkan ragam komunitas lain dengan mengusung gaya kedaerahan untuk menguatkan potensi dan identitas, seperti  Pengosekan, Batuan, dan Peliatan

Komunitas Pita Maha bagi anggotanya dijadikan sebagai pergerakan yang tertata dari aktivitas keseharian dalam berkesenian, sebagai wadah interaksi sosial di sela-sela berkarya masing-masing. Setelah adanya aktivitas dalam komunitas ini, berkesenian bukan lagi hanya sekedar menjadi hobi, sarana upacara, maupun hanya sebagai pemenuhan pariwisata yang telah berkembang saat itu, tapi juga sebagai penguatan nilai karya yang dihasilkan dan sebagai  koordinasi agenda pameran ataupun kegiatan lain yang berbasis komunitas.

Sampai pada dekade 1970-1990-an, ada banyak komunitas yang terbentuk dengan mengusung berbagai ”ideologi” kesenirupaan untuk memposisikan diri dalam medan seni rupa di Bali. Dari era Bali klasik, berkembang ke seni rupa modern, hingga kini bergelut dalam percaturan wacana seni rupa kontemporer.

Pada dekade ini, Sanggar Dewata Indonesia (SDI) merupakan salah satu komunitas yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan seni rupa Bali dan memiliki posisi penting dalam medan seni rupa nasional. Hal tersebut dikarenakan para anggota SDI memiliki kekuatan visual yang begitu identic dengan nilai ke-Bali-an yang dihadirkan baik wacana maupun objek ikonis dan simbol-simbol budaya Bali.

SDI didirikan tahun 1970-an di Jogjakarta oleh sekelompok seniman Bali yang kala itu merantau untuk  menempuh pendidikan di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) yang kini menjadi Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Mereka di antaranya  alm. Nyoman Gunarsa, alm. Wayan Sika, alm. Made Wianta, dan alm. Pande Supada. SDI didirikan sebagai wadah bagi seniman dan mahasiswa seni rupa Bali yang memiliki ikatan kedaerahan yang kuat serta visi berkesenian yang sama.

Hingga sekitar tahun 2001 ada sebuah gerakan “menggugat” institusi, komunitas, pagelaran maupun  seniman (termasuk SDI)  yang dinilai hanya “menjual” nilai ke-Bali-an tersebut dalam dinamika pariwisata budaya. Ada wacana kapitalis yang diisukan sebagai gerakan yang dinamai “Mendobrak Hegemoni”.

Setelah era tersebut semakin banyak bermunculan komunitas-komunitas seni, baik dengan visi dan misi terencana, komunitas yang terbentuk secara reaktif, dan komunitas yang bersifat temporer untuk mencari “panggung” posisi dalam pergelutan seni rupa Bali.

Dari dua komunitas yang disebutkan diatas, ada beberapa hal yang menjadikan komunitas memiliki komitmen serta ikatan yang terjaga dalam waktu yang lama hingga ada regenerasi keanggotaannya, serta memiliki peranan penting dalam perkembangan seni rupa di Bali. Poin-poin tersebut adalah visi dan misi, serta nilai kolektifnya.

Visi dan Misi

Komunitas merupakan ruang sosial  dari  individu yang memiliki kesamaan untuk mewadahi  ide dan  gagasan. Maka, membentuk komunitas tidak hanya sekedar menyatukan pikiran tanpa ada pedoman dan landasan. Hal tersebut ditempuh untuk dijadikan pijakan dalam kebersamaan, karena komunitas tidak hanya sebuah “perkumpulan” hura-hura tanpa tujuan.

Diperlukan komitmen untuk menyatukan individu untuk menjadi sebuah komunitas. Mereka secara sadar menyatukan diri dalam sebuah wadah yang mimiliki visi dan misi jelas untuk menjadikan komunitasnya berkesinambungan. Selain itu diperlukan rumusan visi yang kongkret agar terbangun cita-cita masa depan untuk keberlangsungan komunitas, serta dengan misi sebagai langkah-langkah dalam tahap mewujudkan pergerakan komunitas yang dibangun.

Dari visi dan misi tersebut komunitas akan lebih terarah dalam menentukan sikap dan kegiatan berkeseniannya, untuk meraih posisi  dalam medan seni rupa di Bali. Hal tersebut tidak terlepas dari aktivitas yang akan dijalankan, sehingga wacana maupun gagasan tertuang secara aktif.

Nilai Kolektif dan Kersetaraan

Selain visi dan misi yang diusung dalam komunitas, nilai kolektif menjadi kunci untuk keberlangsungan dan penguatan. Pada nilai ini diharapkan tidak ada lagi persoalan hierarki untuk membangun persamaan serta menghindari perbedaan yang tidak sepatutnya dalam komunitas, demi kesetaraan dan relevansi di dalamnya.

Pada konsep kolektif tidak lagi ada yang merasa menjadi tinggi rendah, superior, atau malah merasa inferior.  Karena, ketika merasa  menjadi superior dalam komunitas tentunya akan dinilai memiliki  pribadi yang egois dalam sistem kebersamaan tanpa memahami nilai-nilai kesetaraan, dan sebaliknya merasa diri terlalu inferior akan menimbulakan rasa kurang percaya diri dan paradigma yang kurang baik, bahkan terkesan hanya sekadar ikut-ikutan. Hal tersebut berbeda dengan sikap kepemimpinan yang dibutuhkan dalam mebangun komunitas, sebagai upaya untuk meyakinkan semua anggotanya untuk menjadikan komunitas lebih lebih progresif.

Melalui beberapa urain tersebut, komunitas seni sangat berpengaruh dan memberi peranan penting dalam penguatan dan perkembangan seni rupa di Bali. Komunitas merupakan kantong dan wadah dalam menghadirkan pergerakan-pergerakan yang masif untuk perkembangan dinamika seni rupa Bali.

Tabanan, 1 Februari 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Copyright © Media Bali 2021 | Newsphere by AF themes.