MEDIA19 dot ID

Ajeg Bali untuk Indonesia

Kisah Penyeimbangan Semesta dalam Pentas “Lingga Acala”

2 min read

Media Bali/005 Salah satu adegan dari pentas “Lingga Acala” garapan Sanggar Seni Maha Widya Natya

Sesolahan Virtual Sanggar Seni Maha Widya Natya dalam Bulan Bahasa Bali 2021

DENPASAR, Media Bali – Sesolahan (pagelaran) serangkaian Bulan Bahasa Bali 2021 terus berlanjut. Pada 6 Januari 2021, channel YouTube Disbud Prov. Bali menyajikan garapan dari Sanggar Seni Maha Widya Natya.

Garapan berdurasi sekitar 35 menit dan melibatkan 35 penari itu mengetengahkan judul “Lingga Acala”. Seperti namanya yang secara harfiah berarti ‘lingga yang tidak bergerak’ atau yang mengarah pada ‘gunung’ mengisahkan tentang upaya penstabilan bumi melalui pemutaran Gunung Mandari Giri. Sajian ini pun merupakan bentuk respons dari sanggar tersebut terhadap tema yang dihadirkan Panitia Bulan Bahasa Bali 2021 yakni “Wana Kerthi: Sabdaning Taru Mahottama”

Perwakilan sanggar, Ketut Rudita atau yang akrab dipanggil Sokir mengatakan, fragmen ini mengisahkan bahwa pada zaman dahulu di Tanah Jawa, gempa bumi selalu terjadi. Hal ini terjadi karena tidak adanya gunung atau Giri Mandara sebagai penyeimbang alam semesta Pulau Jawa.

“Hal tersebut mengakibatkan Dewa Mahakarana mengutus para dewa, resieng langit, suranggana, widyadara, gandara, agar menuju Jambu Dwipa mengambil bagian dari Gunung Mahameru untuk diletakkan di Tanah Jawa dengan tujuan agar tentram dan sejahtera Tanah Jawa,” tuturnya.

Namun, ketika memutar Gunung Mahameru, tidak disangka para dewa kehilangan kekuatan lantaran meminum air yang keluar dari gunung tersebut.  Air bernama Kalakuta itu ternyata merupakan racun.

“Sadar akan kondisi tersebut, Dewa Parameswara segera mengusap dan meminum air tersebut. Itulah yang menyebabkan beliau disebut Dewa Nilakanta. Karena berhasil menyadarkan pikirannya, lantas Dewa Parameswara meruwat atau mengubah Tirta Kalakuta menjadi Tirta Amertha Siwamba, sehingga para dewa hidup kembali,” tuturnya.

Menerjemahkan isi kisah tersebut, mreka berupaya memasukkan berbagai komponen seni, mulai dari music, gerak, hingga suara untuk kemudian dikemas dalam bentuk multimedia. Unsur-unsur pertunjukkan mulai dari busana, alat pendukung, tempat pentas, hingga musik dipersiapakan dengan sangat presisi. Guna mendukung visualisasi karya, semua plot diambil di alam terbuka, seperti di Batu Alam, Batuyang, Gianyar dan beberapa tempat di Guang, Gianyar.

“Semua unsur seni itu tidak berdiri sendiri, melainkan mengeksplor alam, sehingga ada makna-makna positif yang disajikan. Pesan moral, khususnya menjaga alam lestari menjadi inti dari sesolahan tersebut, sehingga setiap gerak, busana, properti, dan tempat sangat mendukung. Musik, tak hanya menjadi ilustrasi, melainkan benar-benar memberikan jiwa terhadap setiap gerak dan mampu memberi warna setiap adegan,” jelasnya.

Musik Iringan yang dipilih adalah gender yang bernuansa klasik, sehingga tampak terasa menyatu dengan alam. Selain itu, para penari juga bergerak seakan menyatu dengan alam. “Mereka menari di lumpur, air, dan juga di kori agung bukannya tanpa makna. Semua itu bersumber pada sastra yang diungkap lewat seni multimedia. Konsep garapan ini adalah pemajuana multimedia dengan mengangkat cerita Pemutaran Mandara Giri. Unsur vokal dan gerak tari semuanya mengekplor alam, sehingga sesuai dengan tema Bulan Bahasa Bali, “Wana Kerthi”,” jelasnya. 005

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Copyright © Media Bali 2021 | Newsphere by AF themes.