MEDIA19 dot ID

Ajeg Bali untuk Indonesia

Kala dan Gagasan tentang Waktu

3 min read

IGA Paramita (Dosen Universitas Hindu Indonesia)


Lah agé kita tumurun maréng Mértya-pāda, angulati, angungsir ratu ring Kérta-Nagara. Néhér winastu ta Sang Panca Kumāra, ‘astu kitānaku dῑrghāyusa paripūrṇa’.

(Kala Purana)

Entah mengapa, Bhatara Siwa meminta anaknya pergi ke Mertya Pada. Ia mesti menemui Prabu Mayasura agar bisa terhindar dari ancaman Bhatara Kala. Sudah berkali-kali Bhatara Siwa mengulur waktu, agar Kala tak memangsa Kumara.

Namun Saniscara Kliwon Wuku Wayang datang lagi. Kumara mesti berlindung di “dunia yang tak kekal”. Konon di dunia tak kekal inilah ia bisa selamat dari buruan Kala. Mengapa di dunia tak kekal? Ditunda dulu pertanyaan ini.

Kala memang dianugrahi kemampuan melahap segalanya. Siapapun yang bergerak ketika matahari berada di puncak, saat waktu antara (sandhi) ia diberikan izin untuk melahapnya. Tiada yang bisa menghentikan “hukum kala” ini. Termasuk para dewa dan kedua orang tuanya. Kala adalah konstitusi alam semesta.

Kala pernah ingin melahap orang tuanya karena melanggar aturan. Namun Siwa memintanya menjawab teka-teki yang diajukan sebagai syarat. Jika saja Kala tak bisa memecahkan teka-teki Siwa, ia tak mampu melahap orang tuanya.

Toh, Kala akhirnya kalah. Ia bingung. Gagal paham. Tak bisa memecahkan teka-teki Siwa. Di sini, ternyata Siwa punya cara terhindar dari “lahapan” anaknya, Sang Kala.

Kisah kala memang selalu dihubungkan dengan gagasan tentang waktu. Dalam teks-teks Hindu, gagasan tentang waktu ini memiliki beragam versi. Dalam Purana orang menemukan gagasan tentang empat zaman (Catur Yuga) yakni Satya, Treta, Dwapara dan Kali—bersama dengan siklus—dunia, yang memberikan gambaran tentang bentangan waktu yang luas dalam istilah astronomi. 

Brahmanda Purana secara dramatis menggambarkan empat yuga sebagai empat wajah waktu yang dikatakan menciptakan dan menghancurkan semua makhluk.  Selanjutnya, gagasan bahwa gerak matahari adalah dasar pembagian waktu ditemukan dalam Agni Purana.

Dalam Mahabharata seseorang menemukan perumpamaan terkenal di mana waktu digambarkan sebagai “sutradara” alam semesta, mengizinkan peristiwa, dan mencegah urutan peristiwa. 

Svetasvatara Upanisad mengacu pada pandangan yang menganggap waktu sebagai penyebab segalanya. Di sini bisa disimak, begitu beragamnya gagasan tentang waktu dalam teks-teks Hindu.

Sebenarnya apa itu Kala? Mengapa ia diidentikkan dengan waktu? Kala memang tidak hanya berarti waktu. Ada perumpamaan lain yang turut mewarnai arti kata Kala ini. Anindita Balslev dalam buku A Study of Time in Indian Philosophy punya ulasan menarik berkaitan dengan pemaknaan istilah Kala.

Dalam bahasa Sanskerta, Kala memang diartikan sebagai waktu. Namun berangkat dari akar etimologis dari istilah kala adalah “kal” yang artinya menghitung (lih. Latin calculo).  Jadi menurut beberapa kata, kala menandakan apa yang dapat menghitung usia semua. Akar kata “kal” juga berarti ‘melahap’, yang mengarah pada anggapan kekuatan destruktif dari waktu.  Jadi, kala juga mengacu pada kematian.

Jika mengacu pada elaborasi Balslev, kisah Kala dalam teks Kala Purana atau teks-teks sejenisnya yang mengidentikkan kala dengan aktivitas melahap merupakan pengertian yang “distruktif” tentang arti kata kala tersebut.

Dan tentu, Kala punya peran distruktif itu. Ia adalah hukum atau konstitusi dari alam semesta. “Aku adalah waktu yang menghancurkan dunia”.

Ketika agama-agama menjauhkan diri atau mencoba melampaui hukum semesta, keberadaannya akan terus diuji oleh hukum semesta tersebut. Kala akan selalu menguji “kekuatan agama”. 

Hal ini sejalan dengan pandangan yakni cara menguji etik di dalam agama adalah hati nurani, cara menguji ilmu pengetahuan dengan akal budi, dan cara menguji kepercayaan agama-agama adalah dengan konstitusi alam.

Pandangan menarik tentang kata Kala juga ditemukan dalam teks-teks Tantra. Sir John Woodroffe misalnya, dalam buku Introduction to Tantra Sastra, memahami Brahman sebagai niskala dan sakala. Kala di sini diartikan sebagai prakerti. Substansi dari prakerti adalah triguna—tiga sifat atau atribut.

Brahman disebut sakala apabila ia bersama prakerti. Karena substansi pakerti adalah tiga guna, maka saguna, seperti di keadaan sebelumnya, itu adalah nirguṇa. Di sini, istilah sakala dan niskala tidak secara spefisik dimaknai sebagai berada di dalam waktu atau di luar waktu, melainkan digunakan untuk menjelaskan hubungan ketika Siwa berada bersama Sakti, atau ketika Brahman bersama prakerti. Artinya, sakala-niskala itu adalah keadaan di dalam Siwa-Sakti itu sendiri.

Kala bekerja ketika penciptaan dimulai. Tak ada yang abadi di bawah hukum Kala. Semua yang hidup di dunia tak kekal dilahap oleh Kala. Kecuali dengan cara “belajar teka-teki” Siwa. Atau menjadi “dalang” semesta. *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Copyright © Media Bali 2021 | Newsphere by AF themes.