MEDIA19 dot ID

Ajeg Bali untuk Indonesia

Guru dan Bahasa

3 min read
Made Reland Udayana Tangkas

Made Reland Udayana Tangkas (Dosen STAHN Mpu Kuturan Singaraja). MEDIA BALI/IST

Made Reland Udayana Tangkas (Dosen STAHN Mpu Kuturan)


DIGUGU dan ditiru. Guru menjadi pribadi yang dicari-cari oleh para pemburu pengetahuan (baca: murid) untuk mendapatkan kecerahan hidup baik pada waktu kini hingga masa nanti. Ia dipercaya sepenuhnya untuk menyelamatkan seorang murid dari kungkungan gelapnya kebodohan dan suramnya ketidaktahuan. Maka, jejak guru akan menjadi setapak bagi seorang murid untuk menuju harapan sekaligus impian dan cita-cita. Tidak hanya itu, segala tingkah-langkah dan tindak-tanduk seorang guru akan diteladani dan dijadikan contoh bagi murid dalam masa pendidikan. Terlepas dari benar atau salah, seorang murid yang menjalani proses pencarian kebenaran dan pembenaran pasti menganggap gurunya sebagai alasan dalam penentuan kebenaran. Maka dari itu, guru juga memberikan sumbangsih terhadap kualitas, luaran, dan garis kehidupan murid. Tak terbantahkan jika guru menduduki linggih yang utama.

Peran guru yang sangat kompleks terhadap keberlangsungan pencarian jati diri seorang murid tentunya menuntut kesiapan dan kemampuan yang menjanjikan hal tersebut. Kualitas diri, keilmuan, kepribadian, kebiasaan, dan pemikiran tentunya tidak lagi perlu dibahas karena itu semua menjadi syarat mutlak dan kodrat manusiawi seorang guru. Dengan bekal yang penuh, seseorang akan ditasbihkan menjadi guru oleh seorang murid. Tanpa murid, seseorang tak akan bisa menjadi guru. Berbeda sebaliknya, seorang anak bisa saja menjadi murid tanpa seorang guru. Guru bukan hanya manusia. Dunia, alam, dan pengalaman pun adalah guru bagi segala yang belajar dan berguru. Dan guru pun belajar dari seorang guru dan jika mampu maka akan diangkat menjadi guru. Tetapi, guru itu belum sepenuhnya menjadi guru jika belum dicari oleh seorang murid. Jika mencari murid, pertanyaannya, apakah ia tidak dicari, atau tidak diketahui, atau mungkin hanya mengharapkan predikat sosial di hadapan publik dan disegani dengan motif viralisme semata?

Seorang guru memang tidak terlepas dari seorang murid yang bersungguh menggali pengetahuan. Guru memang memerlukan kehadiran murid serta memilih muridnya sendiri. Tetapi itu tidak langsung ia lakukan. Guru mengundang kekaguman dan kepercayaan murid dengan menebarkan kebijaksanaan, keteladanan, dan keberperanannya untuk masyarakat. Dengan kepercayaan yang telah terbangun, guru memilih murid dengan pengujian dan penilaian tertentu yang nantinya menentukan kesungguhan di balik kemauan belajar. Jika semua itu telah dilalui, pendidikan dan pembelajaran yang sebenarnya akan dapat dilakukan. Lalu, siapa sebenarnya murid yang dimaksud itu? Murid itu tiada lain adalah masyarakat yang butuh bimbingan, keteraturan, keterjaminan, pengetahuan, pencerahan, kelurusan dari segala masalah hidup yang tak habis-habisnya. Untuk menjawab itu, guru hadir di pelbagai segi kehidupan masyarakat.

Pengetahuan akan hidup di saat pertemuan antara guru yang sebagai siwa dengan murid yang sebagai sisya. Maka guru adalah sumber pengetahuan dan murid menerima pengetahuan tersebut. Sehingga, pengetahuan akan mengalir sebagai “tutur” yang dituturkan (baos) dengan bahasa (basa). Guru yang menguasai berbagai pengetahuan pastinya memiliki ciri yang dapat diamati secara langsung. Salah satu yang jelas terlihat dan terdengar adalah tutur kata. Pengetahuan tidak akan tersalurkan kepada murid jika tidak diucapkan, dijelaskan, dirincikan dengan bahasa. Sehingga, layaknya seorang berpengetahuan cakap bahasanya pun penuh dengan pengetahuan tuntunan dan kebijaksanaan. Dalam hal ini, tutur kata seorang guru dibandingkan dengan bicara seorang pedagang pastinya sangat kentara perbedaannya.

Guru memang tidak ditentukan oleh umur. Semua umur bisa menjadi guru asalkan segala syarat dan kemampuan telah disiapkan dengan matang. Kendati demikian, pengaruh umur juga tidak lepas dari kualitas dan pengaruh emosional, pengalaman, ketangguhan, dan kedewasaan. Selain itu, fase tingkatan hidup yang terkait erat dengan pencarian pengetahuan (brahmacari) juga patut dilalui dengan sesungguhnya. Kedewasaan secara usia dan pengetahuan tersebut juga memengaruhi penggunaan bahasa yang menjadi penciri karakter guru.

Singkatnya, guru digugu dan ditiru atas dasar ucap cakapnya yang memberikan keteladanan dan kemuliaan. Guru dikenal dan dipercaya karena bahasanya yang senantiasa menularkan pengetahuan yang berguna untuk menjawab pelik persoalan hidup. Patutnya, kata demi kata yang terujar olehnya di dalam komunikasi keilmuan penuh akan kesungguhan, kewibawaan, dan ketegasan. Dengan demikian, murid pada waktunya juga akan memberikan penilaiannya terhadap guru. Saat dirinya telah menemuka pendewasaan pengetahuan dan titik timbang kebenaran, unsur tadi akan menjadi sorotan murid yang menempatkan dirinya sebagai masyarakat. Dengan bahasa, kemuliaan, kewibawaan, dan keteladanan mampu dipancarkan oleh seorang guru dalam menduduki linggih yang utama.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Copyright © Media Bali 2021 | Newsphere by AF themes.