MEDIA19 dot ID

Ajeg Bali untuk Indonesia

Di Denpasar, Melasti Dilaksanakan “Ngubeng”

2 min read
Ilustrasi pelaksanaan Melasti di Padanggalak sebelum pandemi Covid-19 Insert: Wali Kota Denpasar, I GN Jaya Negara dan Wakil Wali Kota I Kadek Agus Arya Wibawa hadir mengikuti pembahasan kesepakatan bersama MDA Kota Denpasar

Ilustrasi pelaksanaan Melasti di Padanggalak sebelum pandemi Covid-19 Insert: Wali Kota Denpasar, I GN Jaya Negara dan Wakil Wali Kota I Kadek Agus Arya Wibawa hadir mengikuti pembahasan kesepakatan bersama MDA Kota Denpasar MEDIA BALI/IST

Jaya Negara Harap Tidak Kurangi Makna Upacara

DENPASAR, Media Bali – Pelaksanaan Melasti rangkaian Hari Suci Nyepi Saka 1943 Tahun 2021 di Kota Denpasar dilaksanakan secara ngubeng. Kesepakatan ini diputuskan usai koordinasi bersama antara Pemerintah Kota Denpasar, PHDI dan MDA Denpasar, serta jajaran terkait di Graha Sewaka Dharma, Lumintang, Selasa (9/3)


Wali Kota Denpasar, IGN Jaya Negara berharap pelaksanaan Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1943 yang berjalan dalam suasana pandemi Covid-19 tidak mengurangi makna dari rangkaian upacara. “Yang terpenting adalah upacara yadnya berjalan dengan tidak menghilangkan makna serta esensi dari pelaksanaan upacara tersebut. Apa yang sudah dirancang saat pandemi Covid-19 telah dilakukan pembahasan bersama serta tertuang dalam kesepakatan,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa saat ini Kota Denpasar juga masih melaksanakan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Skala Mikro Tahap III yang berlangsung hingga tanggal 22 Maret 2021 mendatang. Pelaksanaan PPKM Mikro memberikan kelonggaran operasional usaha hingga pukul 22.00 WITA. Oleh karena pelaksanaan PPKM itulah, ia meminta agar masyarakat dapat disiplin dalam menerapkan prokees, sehingga dapat meninigkatkan kesehatan dan memulihkan situasi ekonomi masyarakat.


Sementara itu, Ketua MDA Denpasar, A.A Ketut Sudiana mengatakan kesepakatan bersama yang telah disepakati pihaknya akan dijadikan rujukan dalam pelaksanaan Hari Suci Nyepi 1943 Saka. Hal-hal yang diatur mulai dari Melasti, Pengerupukan, hingga pelaksanaan Catur Brata Penyepian.

“Dalam pelaksanaan Melasti di Kota Denpasar dengan kesepatan bersama dilaksanakan secara ngubeng. Artinya, pelaksanaan prosesi Melasti hanya melibatkan prajuru, pemangku, dan serati banten,” katanya.

Sedangkan, pelaksanaan “Maprani” yang dilaksanakan di masing-masing banjar dengan kesepakatan dilaksanakan hanya akan melibatakan prajuru, banjar, serati banten, dan pemangku. Selanjutnya, pengarakan ogoh-ogoh kembali ditiadakan dalam Pengerupukan tahuun ini. Masyarakat juga diharapkan kepada masyarakat untuk melaksanakan Catur Brata Penyepian serta dapat  menjaga keamanan dan kenyamanan bersama yang melibatkan para pecalang banjar setempat maupun desa, serta berkoordinasi dengan parat TNI/Polri

“Dalam kesepakatan ini pembahasan pelaksanaan Tawur Agung Kasanga dilakukan pembatasan agar tidak terjadi kerumunan, pelaksanaan malam Pengerupukan pada hari sandikala tidak ada pengarakan ogoh-ogoh, tidak minum-minuman keras, dan tidak menyalakan kembang api atau mercon serta bunyi lainnya agar tidak menggangu keamaan dan kenyamanan,” jelasnya.

Kesepakatan ini pun diharapkan dapat menjadi kesiapsiagaan bersama dalam penanganan Covid-19. Kesepakatan ini juga memperhatikan surat edaran PHDI dan MDA Provinsi Bali terkait teknis dan pelaksanaan rangkaian Hari Suci Nyepi 1943 Saka.014

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Copyright © Media Bali 2021 | Newsphere by AF themes.