MEDIA19 dot ID

Ajeg Bali untuk Indonesia

Tenang Beri Keterangan atas 27 Pertanyaan Petugas Kejati

5 min read
Mantan Sekda Buleleng 2011-2020 Ir. Dewa Ketut Puspaka, MP., memberi keterangan saksi dalam penyidikan umum di Kejati Bali. Ia ditemani kuasa hukumnya Agus Sujoko, dari Pukul 09.00 s.d. 17.12 Wita, Selasa (23/3) kemarin.

Mantan Sekda Buleleng 2011-2020 Ir. Dewa Ketut Puspaka, MP., memberi keterangan saksi dalam penyidikan umum di Kejati Bali. Ia ditemani kuasa hukumnya Agus Sujoko, dari Pukul 09.00 s.d. 17.12 Wita, Selasa (23/3) kemarin. MEDIA BALI/012

Mantan Sekda Dewa Puspaka

Mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Buleleng tahun 2011-2020 Ir. Dewa Ketut Puspaka, MP., menjalani pemeriksaan sebagai saksi dalam penyidikan umum di Kantor Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bali dengan dicecar 27 pertanyaan oleh penyidik.

DEWA KUSUMA

DEWA Puspaka hadir ke Kantor Kejati sekitar Pukul 09.00 Wita dan usai diperiksa Pukul 17.12 Wita. Setelah memberikan keterangan ia tampak tenang berjalan menuruni anak tangga untuk menemui wartawan dengan pakaian khas batik lengan pendek warna coklat tua dan celana panjang warna coklat muda. “Ya pertama saya sampai sore hari ini (Selasa), bersyukur kepada Tuhan saya sangat sehat menjalani pemeriksaan, semua pertanyaan bisa saya jawab dan jelaskan dengan baik. Tentunya saya juga perlu menyampaikan bahwa saya sangat nyaman sekali menjalani pemeriksaan ini dengan pertanyaan yang jelas dan kesempatan diberikan juga sangat luar biasa, saya menjawab dengan tenang sehingga supaya tidak ada kekeliruan dalam memberikan penjelasan,” ujarnya, Selasa (23/3) kemarin.

 Ia menerangkan kasus dugaan tindak pidana korupsi atas penyelewengan anggaran di lingkaran pejabat di Kabupaten Buleleng mencuat di Kejati Bali diduga terjadi tahun 2014 s.d. 2020, sudah diberikan penjelasan oleh Dewa Puspaka sesuai kebenaran yang ada.

 “Prinsip bahwa kami sudah memberikan penjelasan yang ada, semuanya masih berproses, saya tidak masuk ke materi penyidik.

 Atas doa teman-teman semuanya sudah bisa saya jelaskan dengan baik setiap pertanyaan yang ada. Saya juga diberi makan siang yang enak dan ruangan yang nyaman, serta petugasnya sangat profesional sekali,” terangnya.

 Dewa Puspaka juga menjelaskan bagaimana skema dana dikeluarkan dari tahun 2014 s.d. 2020, di mana sebelumnya Kejati Bali diduga telah menemukan ada tindakan penyimpangan keuangan anggaran daerah atas sewa rumah pribadi Sekda Buleleng yang disewa menjadi rumah dinas jabatan. Ia pun memberikan jawaban riil dari 27 pernyataan dengan keadaan tenang.

 “Ya ini kan sudah materi ya, nanti mungkin pengacara saya yang lebih menjelaskan lebih detail, ada 27 pertanyaan,” jelasnya.

 Sebelumnya, Dewa Puspaka ditemani anaknya Dewa Rhadea juga menyatakan sudah mengembalikan uang yang dinilai kerugian negara ke BPD Singaraja sebesar Rp924.000.000., pada Jumat (19/3) siang lalu, jumlah ini lebih banyak dari hitungan Kejati Bali sebesar Rp836.952.318.

 “Ya saya jelaskan (dana dikembalikan-red), itu kan itikad baik. Itu ya dari perhitungan yang ada pada kami, jadi ada Rp924 juta saya kembalikan ke kas daerah. Jadi terima kasih temanteman sudah lama menunggu tadi. Untuk pemeriksaan lanjutan nanti, itu ya urusan beliau-beliau penyidik. Jika memang ada datadata diperlukan kami sudah siap memberikan keterangan,” tegasnya.

 Diduga mengenai penerimaan uang rumah dinas dimaksud, konon sudah berdasarkan atas surat keputusan Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana, tertanggal 31 Desember 2014. SK ditetapkan rumah di Jalan Kumbakarna LC 10 Nomor 14X, Singaraja atas nama istrinya Indriani sebagai rumah dinas Sekda Buleleng. Selain itu, penetapan atas rumah dinas tersebut bahkan masuk dalam APBD Buleleng, beserta penetapan rumah pribadi sebagai rumah dinas turut berdasarkan atas Permendagri 07 Tahun 2006 serta petunjuk Dirjen Keuangan Daerah Kemendagri 1 April 2013 tentang penjelasan sewa rumah Sekda. Ditanya dalam perkembangan pemeriksaan, apakah istrinya Indriani diduga akan turut diperiksa? Dewa Puspaka akan mengembalikan kembali terhadap kewenangan penyidik.

 “Ada tahapannya, itu kan kewenangan penyidik untuk memanggil siapa-siapa saja nantinya,” katanya.

 Sementara itu, saat Dewa Puspaka disinggung tindakan sebelumnya yang dilakukan Wakil Bupati (Wabup) Buleleng dr. I Nyoman Sutjidra, Sp.OG., usai pengembalian uang ke kas daerah sekitar Rp1 Miliar lebih terkait sewa rumah dinas dalam rentang waktu 2014-2020, ia hanya menanggapi dengan ringan.

 “ Ya memang beliau (Wabup Sutjidra-red) juga mengembalikannya,” tandasnya. Kuasa Hukum dari Dewa Puspaka, Agus Sujoko, SH., mengatakan kliennya sudah bekerja baik selama 34 tahun berkarir dan atas permintaan keluarga besarnya uang tersebut dikembalikan. Selain itu, sudah kooperatif dalam kehadiran dan memberikan keterangan.

 “Tadi ada pertanyaan apakah ini tindak pidana? Tidak. Sebab kami bekerja berdasarkan mekanisme yang ada ya, jadi rumah dinas itu sesuai mekanisme yang ada, itu berdasarkan SK Bupati dan Peraturan Bupati, ditambah adanya fatwa Permendagri, jadi kami ada dasarnya,” ujarnya.

 Kata Sujoko, kliennya Dewa Puspaka pun tidak mau ‘cacat’ karena dituding publik melakukan tindak pidana penyelewengan dana rumah dinas.

 “Soal pengembalian itu beliau punya itikad baik, karena beliau tidak mau ‘cacat’ sudah bekerja selama 34 tahun untuk apa saya melakukan pidana. Soal lanjut atau tidak itu kan tergantung di sini ya, yang utama beliau punya itikad baik begitu saja,” imbuhnya.

 Hal terkait penganggaran dana rumah dinas jabatan, disebut Sujoko sudah berdasarkan rancangan dan mekanisme yang berlaku.

 “Sama-sama itu (penganggaran) dirancang dengan Bupati, DPRD, dan lainnya, selama ini juga tidak pernah ada temuan. Nah baru kali ini diduga ada temuan. Setiap tahunnya dianggarkan ada Rp8 Juta, karena berdasarkan appraisal menjadi Rp15 Juta. Rumah itu ditetapkan berdasarkan SK Bupati, menjadi rumah dinas. Sejak rumah dinas itulah kemudian menjadi rumah pribadi, itu kemudian ditetapkan oleh SK menjadi rumah dinas,”

 Kasi Penerangan Hukum Kejati Bali A. Luga Harlianto, SH., M.Hum., mengatakan petugas sudah mengumpulkan bukti-bukti dari saksi. Proses penyelidikan naik ke penyelidikan umum.

 “Dewa Puspaka sudah memenuhi panggilan penyidik untuk memberikan keterangannya sebagai saksi dalam penyidikan umum yang kita laksanakan. Beliau mendatangi Kejati Bali pada Pukul 09.00 Wita, dengan 27 pertanyaan dengan ditanya secara profesional dan beliau juga didampingi oleh penasehat hukumnya Bapak Agus Sujoko,” ucapnya.

 Sebelumya pula sudah ada 12 saksi-saksi memberikan keterangan atas anggaran yang mestinya digunakan menyewa rumah sewaan, tetapi rumah pribadi seolah-olah disewakan dan ada perjanjian di dalamnya. Maka itu, Kasi Penkum Luga menambahkan petugas telah meminta keterangan detailnya.

 “Penyidik meminta keterangan atas usulan, penganggaran APBD, sampai penunjukan rumah, hingga bentuk pencairan anggaran. Yang bersangkutan juga memberikan keterangan pengembalian anggaran diberikan kepada Pemkab Buleleng terkait rumah jabatan,” katanya.

 Ia menambahkan rencana ada empat orang diperiksa, akan tetapi tidak bisa berikan secara detail. Tetapi, sebagian besar dari Pemkab Buleleng yang mengerti dengan pencairan anggaran.

 “Beliau (Dewa Puspaka) kooperatif dan kami beri kesempatan tidak mengejar waktu, karena keterangannya ini akan sangat menentukan untuk kami meningkatkan status penyidikan umum menjadi penyidikan khusus,” tambahnya.

 Penyidikan umum hanya meningkatkan status penyelidikannya ke penyidikan, sebab dia satu paket di dalam satu sprint. Pihaknya akan melakukan pemeriksaan semua saksi untuk mendapatkan sikap atas pengembalian (dana) dilakukan belum lama ini.

 “Penyelidikan yang kami lakukan di awal adalah untuk menindaklanjuti laporan atas sewa rumah jabatan Wabup Bupati dan Sekda Kab. Buleleng, jadi dalam satu surat perintah penyelidikan. Pada saat pengumpulan data dan keterangan, inilah menjadi dasar meningkatkan ke penyidikan. Di dalam adminitrasi kami karena satu sprint, itu ditingkatkan ke penyidikan, sprintnya ini yang kita tingkatkan ke penyidikan umum. Nanti di penyidikan khusus, dugaannya apa? Tersangkanya apa? Dan pasalnya apa?,” pungkasnya.

 Saksi lainnya hadir adalah Ida Ayu Wardhany Sutjidra dengan menaiki mobil Kijang DK 944 US pada Pukul 09.46 Wita dan usai memberi keterangan ia langsung bergegas menghindari wartawan masuk ke mobil berbeda jenis Toyota Yaris warna hitam dengan plat nomor B 2425 UQB menuju pintu gerbang di arah Selatan. 012

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Copyright © Media Bali 2021 | Newsphere by AF themes.