MEDIA19 dot ID

Ajeg Bali untuk Indonesia

Gerbang Bali Jalur Udara

4 min read
Patung Satria Gatot Kaca di wewidangan atung Satria Gatot Kaca di wewidangan Desa Adat Tuban, menuju Bandara esa Adat Tuban, menuju Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. nternasional I Gusti Ngurah Rai.

Patung Satria Gatot Kaca di wewidangan atung Satria Gatot Kaca di wewidangan Desa Adat Tuban, menuju Bandara esa Adat Tuban, menuju Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. nternasional I Gusti Ngurah Rai. MEDIA BALI/IST

Desa Adat Tuban, Badung

   BADUNG, Media Bali – Satu-satunya desa adat di Bali yang ’’memiliki’’ lapangan terbang atau bandar udara bertaraf internasional adalah Desa Adat Tuban, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung. Jadi, kalau orang atau wisatawan, baik nasional maupun internasonal, terbang masuk ke Bali, pertama kali dia pasti menginjakkan kaki di Desa Adat Tuban, di mana Bandara I Gusti Ngurah Rai berada.

    Jro Bendesa Desa Adat Tuban, Drs. I Wayan Mendra, M.Si., mengatakan bandara otomatis menjadi potensi sumber pendapatan Desa Adat Tuban. Namun, mantan anggota DPRD Badung itu memang tidak merinci berapa kontribusi bandara kepada desa adatnya.

    Luas Desa Adat Tuban kurang lebih 3 km keliling, di mana 2/3 bagiannya telah dibebaskan untuk pembangunan bandara sejak 1930 sampai 1997.

    Selain bandara, kata dia, ada juga pusat perbelanjaan Krisna Oleh-oleh Bali, hotel dan pusat kuliner, kampung kepiting.

    Letak desa adat ini sangat strategis karena diapit oleh dua laut dan dua kawasan wisata, Kuta dan Kedonganan/Jimbaran, dan penduduk yang besar. Dengan demikian, mobilitas dan transaksi ekonomi cukup besar.

     Mendra menyatakan penduduknya sangat heterogin. ’’Krama adat mipil 554 sepawon (KK), krama adat Hindu nonmipil wenten kirang langkung (kurang lebih, red) 159 KK, tamiu kirang langkung (kurang lebih, red) 3.000 KK, krama Banjar dinas non-Hindu yang berKTP Tuban. Jadi, akehan (banyaknya) adat Desa Adat Tuban berbanding krama tamiu lan tamiu 1:5,’’ katanya.

     Dia menyebutkan krama Desa Adat Tuban mencapai 14.700 jiwa. Sangat heterogen dalam agama, asal-muasal, sosial ekonomi, dan lain-lain, namun dapat hidup rukun berdampingan dengan baik. “Kerukunan umat beragama tak perlu diragukan, karena semua warga desa adat diakui dan dihargai serta diayomi, sehingga semua kegiatan adat mendapat dukungan moril materiil dengan baik dari seluruh lapisan masyarakat,’’ katanya.

    Mendra menyebutkan kerukunan antarumat beragama tersebut terlihat nyata saat pagelaran Pasar Majelango yang digelar pada hari Ngembak Gni. Sayangnya, karena pandemi Covid-19, tradisi tahunan itu sudah dua kali, tahun 2020 dan 2021, tidak digelar sejak diaktifkan lagi pada awal dia menjabat sebagai bendesa, tahun 2015 lalu.

    Mendra menjelaskan tradisi Pasar Majelango merupakan ungkapan kegembiraan masyarakat Desa Adat Tuban sehari setelah melaksanakan catur brata pada Hari Nyepi. Pada hari tersebut digelar acara silaturahmi antarumat Hindu dan juga dengan masyarakat non-Hindu.

    ’’Tradisi ini sempat tidak dilaksanakan sejak tahun 1970, ya karena kesibukan, pengaruh budaya luar. Saya merasa terpanggil untuk membangkitkan lagi tradisi silaturahmi ini sejak 2015 lalu,’’ katanya.

    Pada Pasar Majelango, kata dia, digelar pasar dadakan yang menjual kebutuhan sehari-hari, baju dan kebutuhan lain yang sifatnya dadakan. ’’Karena itu banyak warga yang menjadi pedagang baru, ada juga yang menjual makanan tradisional, seperti tipat cantok dan sebagainya. Di tengah Pasar Majelango kita buatkan panggung hiburan untuk seni dan budaya, bukan hanya seni budaya Hindu, juga dari saudara kita yang lain. Ada pementasan reog, rebana dan cakalele dari Timor,” katanya.

    Desa Adat Tuban juga mempunyai tradisi yang unik, yakni Siat Geni. Mendra menuturkan Siat Geni adalah sebuah tradisi berupa seni pertunjukan. ’’Siat berarti perang, geni identik dengan Dewa Agni atau Dewa Api, sehingga berarti api. Siat Geni bisa diartikan sebagai perang api,’’ katanya.

   Dalam tradisi yang sudah menjadi warisan budaya tak benda itu, masyarakat Tuban melakukan ritual membakar sabut kelapa sebagai bentuk persembahan. Siat geni berhubungan dengan sejarah terbentuknya Desa Tuban. Kisah tersebut berawal dari pasukan Kerajaan Majapahit yang datang ke Bali dalam rangka menyatukan wilayah Nusantara.

     Nama Tuban, kata dia, mengalami proses peluluhan. Dalam Bahasa Bali, tuban disebut mateeb, lalu menjadi mateeban sebelum akhirnya berubah lagi menjadi Tuban. Sejak saat itu, jumlah penduduk di Bali bertambah banyak sehingga hutan-hutan yang dulunya angker harus dirambah. Dalam perambahan hutan itu terdapat beberapa orang yang mengalami kesurupan. Lalu menurut seseorang yang dianggap sakti, masyarakat sekitar harus mengadakan ritual persembahan Siat Geni secara turun-temurun sebelum membuka lahan agar kesurupan tidak terulang. ‘’Itu menjadi awal tradisi Siat Geni yang dilakukan hingga sekarang. Siat Geni memiliki beberapa fungsi penting, yaitu sebagai alat perekat kebersamaan warga Tuban dengan warga sekitar. Selain itu, Siat Geni juga diartikan sebagai simbol pelebur aura negatif menjadi positif sehingga keseimbangan dapat terjaga. Siat Geni juga sebagai usaha untuk mewujudkan hubungan yang harmonis antara manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungan alam sekitar, dan manusia dengan Ida Hyang Widhi,’’ katanya.

    Mendra menyebutkan Siat Geni diadakan setiap tahun sekali pada Purnama Kapat, sekitar bulan Oktober. ’’Mereka yang terlibat adalah anak muda yang masih suci lahir batin,’’ katanya.

    Dia menegaskan tradisi Siat Geni wajib dilakukan saat piodalan di Pura Dalam Kahyangan. Saat piodalan tersebut diyakini para dewa-dewi akan turun diikuti para pengawalnya. Perang api dimaksudkan untuk menyambut pengawal dewa dewi yang disebut Kala Geni Rudra. ’’Ini merupakan persyaratan yang wajib kami laksanakan dengan maksud untuk menyambut kedatangan Buta Kala Geni Rudra. Kala Geni Rudra diyakini sangat menyukai api. Dengan menyambutnya, maka diharapkan warga Desa Adat Tuban akan diberkahi dengan kesejahteraan. Beliau pasti senang setelah disambut dengan siat geni. Jadi, dengan senang hati akan memberi kemakmuran dan membersihkan kejahatan di Desa Adat Tuban,’’ katanya.

     Layaknya sebuah tradisi di Bali, lanjutnya, sebelum memulai harus dilakukan persembahyangan, memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar diberi keselamatan. Kemudian para pemuda diberikan percikan air suci yang menyimbolkan bahwa mereka bersih secara lahir batin. Kemudian pemuda dibagi dua kelompok dan mereka saling serang menggunakan sabut yang berapi tersebut.

    Siat Geni diyakini berfungsi sebagai pelebur aura-aura negatif menjadi energi positif, sehingga dapat menciptakan keseimbangan sekala dan niskala serta dapat terwujudnya hubungan yang harmonis antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam lingkungan, dan manusia dengan Ida Hyang Widi. 004

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Copyright © Media Bali 2021 | Newsphere by AF themes.