MEDIA19 dot ID

Ajeg Bali untuk Indonesia

Mengenal “Gelar Kuno”Dewa-dewa di Pura Besakih

5 min read

Pura Penataran Agung Besakih.MEDIA BALI/IST

DENPASAR, Media Bali – Setiap Purnamaning Sasih Kadasa, umat Hindu di Bali melaksanaan upacara Ngusaba Kadasa Ida Bhatara Turun Kabeh di Pura Agung Besakih. Masyarakat biasanya akan datang berbondong-bondong ke pura terbesar di Bali itu. Namun, kadang kala masyarakat tidak memahami secara tepat keberadaan Pura Besakih yang penting dalam pencaturan tata keagamaan di Bali, lebih-lebih pada entitas dewa atau bhatara yang berstana di kompleks pura tersebut. Terhadap hal itu, fi lolog naskah-naskah Bali dan Jawa Kuno, Sugi Lanus, mengungkap sejumlah abhiseka atau gelar “kuno” dewa dewa yang berstana di Pura Besakih. Gelar-gelar tersebut didapatkannya dari sejumlah teks kuno Bali.

Pura Penataran Agung Besakih. ura Penataran Agung Besakih. Insert: Sugi Lanus nsert: Sugi Lanus
Insert: Sugi Lanus

“Saya pernah lacak (ada) 19 lontar terkait (Pura) Besakih. Ada Raja Purana Besakih yang paling kompleks, kemudian Kramaning Gumi Bali, Sangkulputih, Swamandala, Rogha Sanghara Gumi, Dewa Tattwa, dan lontar Widhi Sastra umumnya terkait Besakih,” katanya kepada Media Bali belum lama ini. Gelar-gelar dewa itu ada sejak dahulu dan bertahan hingga saat ini. Hanya saja kemudian ada abhiseka bhatara yang tampak diidentikkan dengan dewa tertentu menurut tradisi Weda. “Sebutan kuno dewa yang berstana di Pura Besakih di antaranya adalah Ratu Sula Majemuh, yakni dewa penguasa cuaca untuk memohon cuaca cerah. Stananya berupa bebaturan (tugu capah) yang terletak di teras II kompleks Penataran Agung Besakih,” katanya kepada Media Bali belum lama ini.

Selanjutnya ada Ratu Kubakal atau I Dewa Basa atau Sanghyang Tapapita. Stananya berupa meru tumpang 9 di teras II Penataran Agung Besakih, tempat memohon air suci untuk ngingsah saat upacara Betara Turun Kabeh. Di sebelahnya ada palinggih meru tumpeng 11 stana Ratu Manik Makentel yang diidentikkan dengan Bhatara Rambut Sedana atau dewa kekayaan. Ada pula Sanghyang Siyem dan Sanghyang Majalila yang terletak di sebelah kiri dari Padma Tiga Penataran Agung Besakih. Kemudian ada Ratu Maspahit dengan stananya berupa meru tumpang 11 di teras III kompleks Penataran Agung Besakih. “Disebut juga Ratu Mas, diidentikkan dengan Bhatara Candra atau Wulan (dewi bulan), tempat memohon tirtha sanjiwani,” katanya Ratu Geng atau Ratu Lingsir yang berstana di meru tumpang 7 ada di teras III Penataran Agung Besakih.

Bhatara tersebut juga disebut I Dewa Tureksa (pengawas) dan I Dewa Pangandika (juru bicara). Selain itu juga ada Ratu Sakti, berupa bangunan sederhana terbuka, terdapat patung resi dan seseorang menunggang kuda yang diidentikkan dengan Mpu Kuturan. Di teras IV Penataran Agung Besakih ada Ratu Ulang Alu (dewa pedagang keliling) yang diidentikkan dengan Ratu Ayu Subandar. Selain itu juga ada stana Ratu Sunaring Jagat berupa meru tumpang 11. Beliau adalah dewa cahaya dunia, disebut juga I Dewa Atu atau Bhatara Siwa Nyaturmuka atau Bhatara Siwa Nyakra Bhuwana atau Bhatara Guru. Ratu Ayu Magelung berstana di meru tumpang 3 pada teras V Penataran Agung Besakih. Dewanya para pregina atau seniman. Pada teras yang sama ada Sanghyang Wisesa atau disebut juga Bhatara Raditya (dewa matahari) dengan stananya berupa meru tumpang 11. Pada teras VI terdapat stana Ratu Bukit. Bangunan sucinya berupa Gedong Kiwa dan Gedong Tengen (kanan-kiri).

Kedua bhatara tersebut sering disebut I Dewa Bukit Kiwa dan I Dewa Bukit Tengen atau Ratu Pucak Kiwa Tengen. “I Dewa Batu Madeg berstana di meru tumpang 11, di kawasan komplek Pura Batu Madeg. Disebut pula I Dewa Manik Gumawang. I Dewa Batu Madeg saat ini diidentikkan dengan Dewa Wisnu,” terangnya. Ida Bhatara Kelabang Akit bertsna pada palinggih bebaturan di Pura Batu Madeg. Beliau diidentikkan dengan Bhatara Pertiwi. Sementara itu, Ida Ratu Hidung Lantang yang merupakan sebutan untuk Dewa Gana atau Ganesha berstana pada palinggih bebaturan di Pura Batu Madeg. “Ida Ratu Bagus Cili berstana berupa meru tumpang 11 di Pura Kiduling Kreteg. Beliau merupakan penguasa tikus dalam kaitan dengan pertanian,” ucapnya.

Selanjutnya ada Ida Ratu Bagus Bulusan yang berstana pada meru tumpang 7 di Pura Kiduling Kreteg. Beliau merupakan penguasa burung dalam kaitan dengan pertanian. Ratu Bagus Swa juga terkait dengan pertanian. Baliau merupakan penguasa walangsangit, yang berstana pada palinggih meru tumpeng 5 di Pura Kiduling Kreteg. “I Dewa Rabut Palah atau I Dewa Kiduling Kreteg sekarang diidentikkan sebagai Dewa Brahma. Palinggihnya berupa meru tumpang 11 di Pura Kiduling Kreteg,” katanya.

Pada kompleks pura lainnya, yakni di Pura Gelap disebutkan abhiseka bhatara I Dewa Gelap atau I Dewa Geni atau Ida Ala-ayu Gumi Akasa yang sekarang diidentikkan sebagai Dewa Iswara di Pura Gelap. Kemudian, ada I Dewa Pengubengan atau Ida Bhatara Sapta Akasa yang diidentikkan dengan Dewa Gunung Agung. Stananya berupa meru tumpang 11 di Pura Pengubengan. Di sebelah barat Pura Batu Madeg atau di atas Bukit Ootan, ada Pura Peninjoan, stana I Dewa Peninjoan Teranggana yang stananya berupa meru tumpang 9 di Pura Peninjoan, Tempat tersebut adalat tempat melihat bintang-bintang (tranggana). “Kemudian ada I Dewa Manik Melekah diidentikkan dengan Dewi Sri, stana berupa gedong di Pura Banua; I Dewa Ulun Kulkul yang saat ini diidentikkan dengan Dewa Mahadewa, di mana stananya berupa gedong di Pura Ulun Kulkul; serta I Dewa Bangun Sakti yang diidentikkan dengan Naga Bhatara Anantabhoga, di mana palinggihnya berupa gedong di Pura Bangun Sakti,” terangnya.

Terhadap gelar-gelar dewa kuno itu, pihaknya ingin mengungkap bahwa Pura Besakih merupakan pura yang unik. Namun, dalam perkembangan saat ini masyarakat kadang kala gamang karena tidak bisa sepenuhnya paham siapa yang dirujuk dalam gelar-gelar tradisional itu. Akibatnya kemudian ada alasan dan usaha bagi sekelompok orang untuk mencocokkan tatanan tersebut dengan sistem kedewataan dari lontar dan atau ajaran Weda. “Kalau kita mencoba memberi interpretasi baru atas gelar kedewataan tradisional Bali yang kuno itu, bisa jadi kita merasa terbantu memahami. Tapi tidak ada jaminan interpretasi baru yang kita berikan dengan mencocokkan kedewataan tradisional Bali kuno ini tepat. Bisa jadi kita makin menjauh. Bisa jadi bukan itu yang dimaksud.

Bisa jadi kedewataan di Bali memang khas tradisi kuno Nusantara yang masih terselamatkan di Bali,” katanya mewanti-wanti agar berhati-hati dalam memberi pemaknaan baru terhadap tatanan yang sudah ada. Filolog yang sering berbicara di berbagai forum skala nasional maupun internasional ini pun berharap ke depan para pemangku yang merupakan penjaga pura tersebut tidak terpengaruh dengan interpretasi orang luar. “Alangkah bijaknya tetap para pemangku memuja dengan gelar-gelar Bali Kuno itu, tetap menjaga gelar-gelar suci itu secara konsisten. Kalau para akademisi atau para pakar agama memberikan interpretasi baru, biarlah itu menjadi catatan atau referensi dalam melihat sistem kedewataan atau gelar sesuhunan Bali kuno. Saya yakin para pemangku pasti menjaganya dalam puja, sesontengan, atau saa,” ucapnya. 005

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Copyright © Media Bali 2021 | Newsphere by AF themes.