MEDIA19 dot ID

Ajeg Bali untuk Indonesia

Selangkah Lagi Wedakarna Tersangka

5 min read

Kasus menerpa Senator Arya Wedakarna dinaikan Ditreskrimum Polda Bali ke tingkat penyidikan. Surat pemberitahuan perkembangan hasil penyelidikan diterima oleh Koordinator THNB I Putu Pastika Adnyana, SH., bersama anggota tim pengacara; A.A Ngurah Siwananda Putra, SH., dan Made Aditya Ambara, SH., Selasa (11/5) kemarin.

Bukti Tanah Bali ‘’Tenget’’ dan ‘’Cicih’’

DENPASAR, Media Bali –Selangkah lagi anggota DPD RI dapil Bali Dr. Shri. I Gusti Ngurah Arya Wedakarna, MWS, SE(M.Tru), M.Si., alias Wedakarna menjadi tersangka dalam kasus dugaan pelecehan simbol-simbol suci masyarakat Nusa Penida. Ditreskrimum Polda Bali, Selasa (11/5) kemarin, meningkatkan status terlapor Wedakarna dari penyelidikan ke tingkat penyidikan.

Surat perihal pemberitahuan perkembangan hasil penyelidikan dengan nomor; B/553/V/RES.1.24./2021/Ditreskrimum tertanggal 10 Mei 2021 diterima langsung oleh Koordinator Team Hukum Nusa Bali (THNB) I Putu Pastika Adnyana, SH., di Mapolda Bali, Selasa (11/5) kemarin. “Kami berharap dengan ditingkatkan statusnya dari penyelidikan ke penyidikan, tentu saja ini harapan yang bagus dan memang betul-betul diharapkan masyarakat Nusa Penida, peningkatan status ini adalah proses yang sudah kita lalui, baik penyerahan barang bukti, pemeriksaan saksi, dan lainnya. Jadi inilah harapan kita dengan kinerja dari Polda Bali yang sudah sangat serius dan konsisten di dalam penegakan hukum,” ujar Putu Pastika didampingi anggota tim pengacara; A.A Ngurah Siwananda Putra, SH., dan Made Aditya Ambara, SH.

Putu Pastika menerangkan proses atas kepastian hukum tersebut mengindikasikan nasib Wedakarna akan segera menjadi tersangka karena sudah dinaikan ke tingkat penyidikan.  “Kita tunggu pernyataan resmi dari Kepolisian. Saya kira dalam waktu dekat Wedakarna menjadi tersangka, Cuma tidak etis kalau saya yang mengemukakannya. Kita tunggu saja,’’ katanya.

Dengan naikkannya status dari penyelidikan ke penyidikan, maka apa yang Wedakarna ucapkan beberapa waktu lalu itu sangat menyakitkan masyarakat Nusa Penida dan umat Hindu di Bali terkait penodaan dan pelecehan terhadap simbol-simbol suci yang disucikan di Pura Dalem Ped dan Pura Giri Tohlangkir.

Wedakarna dilaporkan atas kasus dugaan pelecehan atas simbol-simbol suci masyarakat Bali di Nusa Penida. Kasus dimaksud ramai disoroti publik di Bali, hingga sempat terjadi aksi demo di masyarakat.  “Ya dalam tahap proses ini kan, di mana pelaporan yang kami lakukan dan kami kawal dengan masyarakat Nusa Penida, ini adalah tingkatan proses penyelidikan itu dinaikan menjadi penyidikan. Nah secara otomatis saya tegaskan Wedakarna sudah barang tentu akan menjadi tersangka,” paparnya.

Bagi masyarakat Nusa Penida, kata Putu Pastika, naiknya kasus Wedakarna ke tingkat penyidikan adalah bukti bahwa tanah Bali tenget atau cicih, bahkan harus berhati-hati sebagai pejabat publik dalam mengungkapkan sesuatu yang dianggap melenceng dari adat istiadat dan budaya Bali.

“Sangat (kabar gembira bagi warga Nusa Penida), di mana kita tetap bersatu dan menjaga adat seni dan budaya, itu menjadi sebuah kearifan lokal dan kesetiaan kita untuk berbakti terhadap Ida Bhatara. Di mana Ida Bhatara yang selama ini kita sungsung, yang selama ini kita puja itu dilecehkan oleh ucapan-ucapan yang disampaikan Wedakarna,” katanya.

Pihaknya menegaskan titik terang ke tingkat penyidikan berikutnya menunggu tindak lanjut pihak kepolisian. Selain itu, ia tidak ingin mendahului informasi hasil penyidikan dari Polda Bali. “Selanjutnya kami tetap akan menunggu dari pihak kepolisian, tentu saja berbagai tahapan yang sudah kita lalui dan tahapan ini menjadi titik terang  bahwa status dari Wedakarna itu pasti naik untuk menjadi tersangka. Untuk sekarang belum tersangka, karena proses ini akan berlanjut untuk melakukan pemeriksaan terhadap BAP, saksi-saksi di Nusa Penida, dan pengumpulan alat bukti lebih lanjut. Saya juga tidak berani memberi pemberitahuan terlebih dahulu dan tidak akan mendahului pihak kepolisian,” tegas Putu Pastika.

Tertuang dalam point 1, tentang rujukan; a) UU Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia; b) Laporan Polisi Nomor: LP/409/XI/2020/BALI/SPKT/tanggal 3 November 2020 pelapor Putu Ayu Chandra Dewi; c) Pengaduan Masyarakat Nomor: Dumas/441/XI/2020/Ditreskrimum tanggal 3 November 2020 pengadu Team Kuasa Hukum Nusa Bali; d) Surat Perintah Penyidikan Nomor: SP.Sidik/386/V/2021/Ditreskrimum tanggal 10 Mei 2021.

Di point kedua isi di dalam surat, tertuang pemberitahuan; perkembangan terhadap perkara diadukan perihal dugaan tindak pidana barang siapa dengan sengaja dimuka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia yang diketahui terjadi pada hari Kamis tanggal 12 Januari 2017 sekira Pukul 13.00 sampai dengan Pukul 14.30 Wita saat adanya upacara piodalan di Pura Ciwa Kebon Kanginan Jalan Pantai Nyanyi Desa Pandak Gede Kecamatan Kediri, Tabanan.

Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 156a Ke a KUHP, yang diduga dilakukan oleh Dr. Shri. I Gusti Ngurah Arya Wedakarna, MWS, SE(M.Tru), M.Si., sesuai dengan laporan polisi dan pengaduan tersebut di atas. Bahwa berdasarkan hasil penyelidikan telah dilaksanakan gelar perkara pada hari Selasa tanggal 30 Maret 2021 dengan kesimpulan dan rekomendasi gelar adalah untuk kepastian hukum terhadap perkara tersebut dapat ditingkatkan ke tahap penyidikan untuk dilakukan proses penyidikan lebih lanjut, kemudian penanganan terhadap laporan polisi dan pengaduan tersebut dapat digabung, yaitu saksi-saksi dalam pengaduan masyarakat digunakan dalam proses penyidikan laporan polisi sehingga rencana tindak lanjut yang akan dilakukan adalah pemanggilan terhadap pelapor dan saksi-saksi untuk dilakukan pemeriksaan atau diambil keterangannya. Isi surat tersebut ditandatangani oleh AKBP Ranefli Dian Chandra, S.IK., MH., selaku penyidik Kasubdit III Dir Reskrimum Polda Bali.

Sementara itu, Dir. Reskrimum Polda Bali Kombes Pol. Djuhandani Rahardjo Puro, SH., belum dapat dikonfirmasi saat ditanya melalui WhatsApp-nya. Namun diyakini proses hukum akan tetap berjalan Sekadar mengingatkan bahwa dugaan kasus dilaporkan mengenai simbol-simbol yang dipuja masyarakat Bali, di mana Ida Bhatara Dalem Ped di Nusa Penida dalam potongan rekaman video yang viral, Wedakarna menyebut bahwa sosok yang disucikan oleh umat Hindu di Nusa Penida, seperti Ratu Niang, Ratu Gede, Bhatara Sang Hyang Tohlangkir dikatakan bukan sebagai Dewa tetapi sebagai Makhluk Suci.

Sedangkan perihal rekaman video Wedakarna tersebut dengan durasi 05.18 menit beredar luas di media sosial dan dianggap telah melecehkan simbol-simbol yang dipuja masyarakat Bali, pada intinya diduga merendahkan Ida Bhatara Dalem Ped di Nusa Penida. Isi dalam rangkaian rekaman video tersebut juga menyebutkan bahwa sosok yang disucikan oleh umat Hindu di Nusa Penida, seperti Ratu Niang, Ratu Gede, Bhatara Sang Hyang Tohlangkir, telah dihina dengan dikatakan oleh terlapor bukan sebagai Dewa tetapi sebagai Makhluk.

Kasus lainnya selain dugaan pelecehan simbol suci masyarakat di Nusa Penida, tercatat pula kasus dugaan pernyataan Wedakarna dalam ceramah di SMAN 2 Tabanan yang sudah muncul sejak Oktober 2020. 

Sementara dikonfirmasi terpisah Arya Wedakarna melalui WhatsApp-nya belum ada balasan terkait informasi atas naiknya status kasus dugaan pelecehan atas simbol suci masyarakat di Nusa Penida, dari penyelidikan menjadi penyidikan.

“Osa, selamat sore Pak Arya Wedakarna, kami mendapatkan informasi bahwa Ditreskrimum Polda Bali meningkatkan status terlapor Dr. Shri. I Gusti Ngurah Arya Wedakarna, MWS, SE(M.Tru), M.Si., dari tingkat penyelidikan ke tingkat penyidikan. Di mana surat perihal pemberitahuan perkembangan hasil penyelidikan dengan nomor; B/553/V/RES.1.24./2021/Ditreskrimum tertanggal 10 Mei 2021 yang telah diterima langsung oleh Koordinator Team Hukum Nusa Bali (THNB) I Putu Pastika Adnyana, SH., di Mapolda Bali, Selasa (11/5). Bagaimana tanggapan Pak Arya Wedakarna menyikapi hal tersebut? Kami mohon konfirmasinya. Matur suksema”. Hingga berita ini diturunkan Arya Wedakarna belum memberikan tanggapan ke wartawan Media Bali. 012

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Copyright © Media Bali 2021 | Newsphere by AF themes.