MEDIA19 dot ID

Ajeg Bali untuk Indonesia

Sarana Investasi “Tourism, Art and Culture”

2 min read

Ketua Pelaksana Harian Bkraf Denpasar, I Putu "Lengkong" Yuliartha berfoto bersama dengan CEO Kepeng.io, I Gede Putu Rahman Desyanta, usai menandatangani kesepakatan kerjasama "MOU" di gedung DNA Denpasar, pada Selasa (2/6/2021).

Kepeng.io token “Crypto”

Denpasar, MediaBali-Penandatanganan kerjasama “MOU” antara Ketua Pelaksana Harian Bkraf Denpasar, I Putu “Lengkong” Yuliartha bersama CEO kepeng.io, I Gede Putu Rahman Desyanta, telah berjalan sukses, bertempat di gedung DNA (Dharma Negara Alaya) Denpasar, pada Selasa (2/6/2021).

Selanjutnya CEO Kepeng.io, I Gede Putu Rahman Desyanta memaparkan bahwa, “Kepeng.io. menjadi salah satu “Pusat Hub” yang diinkubasi oleh Bkraf Denpasar. Lebih lanjut, menurutnya, Kepeng itu, merupakan token “Crypto”, yang digunakan sebagai project khusus sebagai sarana investasi, dalam industri “Tourism, “Art and Culture”. “Jadi, project kita, fokus pada dunia pariwisata, pelestarian budaya dan seni di Bali,” kata Rahman Desyanta.

Soal kelebihannya, Rahman Desyanta juga mengungkapkan, “Kepeng” itu muncul, yang diilhami oleh semangat Bali, yang bertumpu pada sektor “Tourism” atau pariwisata. “Kita ingin mensupport pariwisata di Bali, yang mencetak token, digunakan sebagai token yang bisa ditransaksikan,” tuturnya.

Soal keberadaan seniman di Bali, imbuh Rahman Desyanta, seniman Bali, ternyata, jauh dari dunia digital. Jadi, dengan “Kepeng.io” ini, bisa membangun sistem “Marketplace” yang membantu para seniman ini, untuk masuk ke dunia digital market, yang bisa dijual karyanya itu, agar lebih fair/ terbuka dan menjadi lebih baik. “Kasus seniman itu khan sekarang tentang “Hak Cipta”. Walaupun memiliki “Hak Cipta”, tetapi “Hak Cipta” itu, biasanya sudah “Terbaur” atau masuk ke edisi penjualan karya seni berikutnya. Dengan “Teknologi Blockchain”, masalah “Hak Cipta bisa terlindungi hingga berapa kalipun, karya seni itu dijual,” ungkapnya.

Sebenarnya, imbuh Rahman Desyanta, “Crypto” itu, teknologi dibelakangnya adalah “Blockchain”. Ditambahkan, Crypto sendiri itu, memang ada kemungkinan “Scam”. Namun, harus dilhat “Underline-nya”, yang mendasari adanya dunia crypto. Seperti “Kepeng” yang mendasarinya adalah keberadaan ekosistem di Bali. Jadi, apapun bisnis yang akan dijalankan, agar bisa menghidupkan “Kepeng” tergantung jenis bisnis yang mensupport pariwisata, seni dan budaya yang berada di Bali. Jadi, dibilang crypto itu, “Scam” atau tidak, itu tidak sepenuhnya benar. Karena, itu tergantung dari jenis “Background Project-nya” dan terbangun sistem komunitasnya. Itu yang terpenting dalam bisnis crypto, yang tidak semata-mata, hanya jual beli token. “Bukan itu maksudnya. Itu sebenarnya, efek sebentar atau efek kecilnya. Malah, efek jangka panjangnya crypto itu terletak pada upaya membangun sistem komunitas dan ekosistem serta peradaban baru,” imbuhnya.

Dijelaskan, “Crypto” merupakan teknologi baru, yang terkadang banyak orang belum mengenalnya. Jika belum kenal, itu wajar dan manusiawi. Jadi, bukan berarti kita menutup diri dengan dunia “Crypto” disertai teknologi “Bockchain”, yang merupakan masa depan. Banyak yang mengatakan, “Sistem Blockchain” itu, sebagai teknologi yang bisa membangun peradaban baru, nantinya di dunia. “Disinilah, kita harus lebih memahami pengetahuan tentang crypto, agar bisa lebih jauh mendapatkan manfaat dari teknologi digital. “Bukan semata-mata dilihat sisi “Cuan” atau untung, yang ternyata rugi. Itu pemikiran jangka pendek. Karena, “Crypto” beserta teknologi “Blockchain” bukan tentang itu. Bahkan melebihi hal tersebut,” tutupnya.ace

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Copyright © Media Bali 2021 | Newsphere by AF themes.