MEDIA19 dot ID

Ajeg Bali untuk Indonesia

Teknologi Blockchain

3 min read

Ketua Pelaksana Harian Bkraf Denpasar, I Putu "Lengkong" Yuliartha didampingi Agung Bawantara dan Santi Wulandari, saat mendengarkan pemaparan pihak kepeng.io, jelang acara Penandatanganan MOU di gedung DNA Denpasar, Selasa, 2 Juni 2021.

Mengubah Cara Kerja Masa Depan

Denpasar, MediaBali-CEO (Chief Executive Officer) kepeng.io, I Gede Putu Rahman Desyanta, didampingi CO-Founder kepeng.io, I Putu Sugiarta dan Chief Marketing Officer, Melizabeth Erchie S., memaparkan, istilah “Blockchain” yang belum banyak dipahami masyarakat luas dibandingkan penyebutan istilah “Bitcoin” (BTC).

Dijelaskan, kata “Blockchain” mungkin banyak yang belum mengetahuinya. Tetapi, jika menyebutkan nama “Bitcoin”(BTC), sebagian besar, pasti pernah mendengar tentang hal ini, padahal, dua hal ini, sangatlah terkait satu dengan yang lainnya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, kata Rahman Desyanta, pada tanggal 3 januari 2009, dalam sebuah “Whitepaper” yang berjudul “Bitcoin: A Peer-To-Peer Electronic Cash System”, disebutkan Bitcoin pertama kali diluncurkan. Menurutnya, Bitcoin adalah mata uang digital yang pertama kali diterbitkan sebagai media, dalam transaksi elektronik, berbasiskan jaringan yang terdesentralisasi.
“Teknologi dibelakang dari mata uang ini adalah technology Blockchain,” tegasnya.

Berikutnya, Rahman Desyanta memaparkan, “Blockchain” adalah metode atau konsep pencatatan transaksi data, dimana data tersebut, tersebar tidak hanya pada satu komputer atau server saja, tetapi, terkoneksi ke berbagai komputer didalam suatu jaringan. Data transaksi yang tersimpan ini, pada satu komputer dengan komputer lainnya, memiliki data yang identik atau sama,” tuturnya.

Diungkapkan, Blockchain juga disebut dengan “Desentralize Network” atau jaringan yang terdesentralisasi. Data tersimpan dan disusun, seperti blok-blok data yang terhubung satu sama lain. Dengan data yang terdesentralisasi ini, menyebabkan untuk melakukan peretasan terhadap data didalamnya, cukup sulit bahkan hampir mustahil,” jelasnya.

Dipaparkan, lebih lanjut, “Blockchain” memiliki 4 karakteristik kunci, yaitu, yang pertama, disebut Konsensus, yang setiap jaringan blockchain, memiliki kunci atau aturan yang telah disepakati bersama, sehingga setiap terjadi transaksi, setiap komputer atau disebut dengan node tersebut, akan diberikan notifikasi bahwa terjadi transaksi. Transaksi tersebut, akan tercatat dalam jaringan, jika telah mendapat persetujuan dari setiap node dalam jaringan.

Berikutnya, ada istilah Provenance, yang menurutnya, pada setiap data yang tersimpan dalam “Blockchain” haruslah terbuka dan semua dapat mengaksesnya dengan sangat terbuka. Setiap data harus diketahui siapa yang membuat, dari mana asalnya data ini. Setiap data harus dapat dijelajah lebih dalam asal mulanya.

Selanjutnya, yang ketiga, diungkapkan, ada istilah Immutable, yang dipaparkan bahwa, tidak ada satupun pihak yang dapat memodifikasi dan menghapus data yang telah terekam dalam jaringan blockchain. Setiap data yang berada disana, telah terekam secara abadi dan telah terikat dengan blok data berikutnya. Jika terjadi kesalahan dalam data, maka data atau blok baru akan dibuat bukan sebagai pengganti dari blok data yang salah, tetapi sebagai tambahan data baru. Dalam hal ini, kedua transaksi tersebut akan terlihat dengan jelas pada jaringan data.

Terakhir, tutur Rahman Desyanta, dinyatakan dengan istilah Finality, yang artinya dalam satu jaringan hanya ada 1 buku besar proses transaksi. Hanya ada 1 sumber data terkait dengan proses transaksi. Siapa yang memilikinya dan semua data didalamnya.

Dilihat dari 4 karakteristik tersebut, imbuh Rahman Desyanta, “Blockchain” menjadi jaringan yang sangat kompleks dan memiliki security yang sangat baik.
Bahkan, “Blockchain” meniadakan adanya “middleman” dalam setiap transaksi. Jika kita melakukan transaksi didalam jaringan tersebut, maka transaksi kita langsung dengan teman lawan transaksi kita. Teknologi ini telah diperkenalkan pertama kali pada tahun 1991, tetapi belum memiliki implementasi yang baik dalam kehidupan nyata. Dengan diperkenalkannya “BITCOIN”, teknologi ini mendapatkan implementasi terbaiknya,” kata Rahman Desyanta.

Dalam BITCOIN, menurutnya, “Blockchain” digunakan sebagai media pencatatan besar atas transaksi pembayaran secara transparan. Setiap transaksi BITCOIN tercatat dan dapat dilihat darimana, kapan, kemana transaksi terjadi. “Transaksi tidak memerlukan orang tengah atau “Middleman”, untuk melakukan verifikasi terhadap transaksi tersebut, dimana verifikasi transaksi dilakukan secara konsensus oleh jaringan yang telah memiliki aturan bersama terhadap data yang memang benar,” jelasnya.

Setelah dikenalkan BITCOIN (BTC), pada 30 juli 2015, blok data Etherium (ETH) pertama kali dibentuk. Lebih lanjut, dijelaskan, Etherium adalah projek blockchain, dimana mengedepankan “Smart-Contract”. Jenis “Blockchain” ini, mengizinkan tidak hanya transaksi keuangan, tetapi, apapun dapat melakukan kontrak antara satu pihak ke pihak yang lain tanpa memerlukan perantara. Mata uang digital yang digunakan untuk melakukan smart-contract ini adalah Etherium (ETH),” paparnya.

“Berkembangnya “Smart-Contract” ini, mendorong tumbuhnya project-project baru “Blockchain” dan mendorong terbentuknya mata uang digital yang banyak kita kenal sekarang seperti Dogecoin(DOGE), Ripple (XRP), Benance (BNB) dan banyak lagi,” ujarnya.

Kini blockchain telah digunakan, tidak hanya untuk industry keuangan, tetapi, banyak industri lain. “Blockchain” dapat digunakan untuk proses legalisasi dokumen, pemilihan umum, keaslian produk, pendidikan, properti, perikanan, militer, pertanian, perternakan dan banyak lagi,” pungkasnya.ace

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Copyright © Media Bali 2021 | Newsphere by AF themes.