MEDIA19 dot ID

Ajeg Bali untuk Indonesia

Citra “Sad Kreti” dalam “Kakawin Rāmāyana”

4 min read

IK Eriadi Ariana (Jero Penyarikan Duuran Batur)

TIGA tahun ini konsep sad kerthi [kreti; kṛti; kirti] berlalu-lalang menembus hingga ke ruang-ruang terkecil masyarakat Bali. Popularitasnya melesat setelah digunakan sebagai visi pembangunan Bali 2018-2023 “Nangun Sat Kerthi Loka Bali” oleh Gubernur-Wakil Gubernur Bali, Wayan Koster-Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati. Melalui jargon politik itulah, wacana sad kreti berkumandang, menari-nari, dan menghias judul maupun tema program garapan Pemerintah Provinsi Bali.

Sad kreti sejatinya adalah penjabaran langsung dari konsep tri hita karana yang lebih diakrabi dunia. Tri hita karana menganjurkan bagaimana manusia idealnya mengusahakan keharmonisan hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, serta lingkungan. Anak tangga menuju keharmonisan itu dapat dijangkau jika mempraktikkan sad kreti.

Sad kreti dapat diartikan sebagai sebagai enam tindakan terpuji yang menyebabkan kemasyuran. Sad berarti ‘enam’, sedangkan kṛti (baca: kreti) berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti ‘tindakan melakukan’, ‘membuat’; ‘aktivitas’; ‘kerja’, ‘karya literer’. Kata ini kemudian diserap dalam khazanah kosakata bahasa Jawa Kuno. Kata kṛti merupakan sinonim dari kata kirti yang berarti ‘kemasyuran’, ‘tindakan terpuji’, ‘tindakan yang berjasa’ (Zoetmulder, 2011). Menurut pustaka Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul, sad kreti dibagi menjadi giri kreti (pemuliaan gunung), sagara kreti (pemuliaan laut), wana kreti (pemuliaan hutan), ranu kreti (pemuliaan danau), swi kreti (pemuliaan lahan pertanian), dan jagat kreti (pemuliaan negara) (Ariana, 2017).

 Keenamnya dijaga oleh Dewa Sad Kreti yakni Hyang Jayasandi (penjaga giri kreti di Basukihan), Hyang Sandijaya (penjaga sagara kreti di Sakenan), Hyang Jayanatra (penjaga wana kreti di Batukaru), Hyang Jayakreta (penjaga ranu kreti di Watuklotok), Hyang Jayasadana (penjaga swi kreti di Rabut Pakendungan), dan Hyang Sri Jayadhana (penjaga jagat kreti di Erjeruk). Mereka putra Bhatara Pasupati sebagai manifestasi Dewata Sad Winayaka di surga (Ariana, 2017).

KAKAWIN RAMAYANA DAN SAD KRETI

            Kakawin Rāmāyana diyakini sebagai kakawin—puisi Jawa Kuno—tertua dan terpanjang. Kakawin Rāmāyana mengisahkan narasi epik-romantis Rāma dan Sita yang diduga digubah pada abad ke-9 dan menjadi pembuka gerbang kehidupan sastra Jawa Kuno di Nusantara. Zoetmulder (1985:277) menyebut Kakawin Ramayana memiliki popularitas tertinggi di masyarakat Jawa dan Bali. Popularitasnya dapat dilihat dari banyaknya jumlah salinan naskah yang tersebar di masyarakat.

            Pengarang Kakawin Rāmāyana yang menyebut dirinya sebagai (Mpu) Yogiswara adalah sastrawan hebat. Ia mampu memainkan emosi pembacanya melalui narasi yang sangat baik, termasuk dengan mengeksplorasi lingkungan fisik ke dalam sajak-sajak yang indah. Eksplorasi alam ke dalam bangunan tubuh kakawin ini jadi tanda gambaran kondisi lingkungan hidup pada masanya, termasuk patut dicurigai sebagai representasi etis ekologi sang pengarang.

            Citra sad kreti dalam Kakawin Rāmāyana dijelaskan lebih banyak sebagai latar cerita. Gambaran menarik tentang sagara kreti dapat dilihat padaKakawin Rāmāyana Sargah XV. Episode ini menceritakan ketika Rama tidak mampu mengontrol dirinya sebagai awatara Wisnu. Rama terjerat ego untuk segera merebut Sita dari Rawana. Namun, upayanya nyaris putus ketika melihat bentangan laut luas yang memisahkan Baratawarsa dan Alengka. Saat itulah Rama dengan amarahnya membentangkan panah, hendak mengeringkan laut. Air laut mendadak bagai mendidih dan membuat penghuninya bersusah hati.

            Baruna dengan sigap mengambil tindakan untuk menyelamatkan abdinya. Dewa Samudera menjelaskan entitas laut sebagai ekosistem amat penting bagi bumi. Mengeringkan laut bukan solusi untuk sampai ke Alengka, justru hanya akan membuat banyak hewan laut mati. Laut yang mengering hanya akan menyisakan lumpur dan membahayakan pasukan kera (mwang yan sātanya sadhyān apa wenanga nikang wré mentasa ri ya/ sangkā yan durga déning latek atiśaya ring āśarya madalem/ lên göng ning lembwara ngké wenanga ya humelö bhumi kṣaṇa tuwi/ yékā kwéh kapwa lunkāntara nikana kabéh malwā katatakut// [dan, bila diinginkan mengering, dapatkah para kera melintasinya?/ sebab tidak dapat dilalui oleh karena lumpur berlimpah dan dalam/ ikan paus yang besar-besar dapat menelan bumi dengan sekejap/ ikan itu yang banyak di antara palung di sana, banyak yang lebar menakutkan//]).

            Citra giri kreti dan ranu kreti dalam Kakawin Ramayana salah satunya dapat dilihat pada sargah XVI. Pada episode penggambaran lingkungan Gunung Suwela, Yogiswara mengisahkan gunung dan danau (telaga) yang indah serta lestari. Gunung dan telaga yang asri menjadi rumah bagi banyak mahkluk. Gunung dan telaga jadi tempat tepat menjamu angan untuk mencari keindahan, spiritualitas, bahkan jadi tempat penciptaan. Pada bait ke-9 sargah XVI, pengarang bahkan mengkonotasikan Gunung Sumeru sebagai gunung permata. Pesannya tiada lain bahwa gunung yang lestari adalah pusat dari kesejahteraan.

            Cara pandang Yogiswara yang cukup menarik tentang wana kreti dapat dibaca pada Sargah II.38-40. Pengarang melalui tokoh Marica memberikan penjelasan tentang tugas seorang raksasa sebagai penjaga hutan, menjauhkan hutan dari manusia serakah yang mengeksploitasi hutan (nyan rāt kabéh ya rabhasāngkwa taman paśéśā/ wéhengku tang bhuwana dadya alas ya śunyā/ āpan swabhāwa mami rākṣasa sāhasêng rāt/… [seluruh dunia hendak aku rusak hingga tak bersisa/ kujadikanlah dunia ini menjadi hutan yang sepi/ sebab kewajiban kami para raksasa memerangi dunia/…]).

            Kakawin Ramayana Sargah III.78 mengungkap tugas seorang pemimpin negara dalam menjaga keberlangsungan sumber daya pangan. Uraiannya dapat dimaknai sebagai salah satu gambaran swi kreti merangkap jagat kreti. Menurut bait ini, sumber daya pangan hendaknya selalu menjadi perhatian prioritas pemerintah. Negara tidak boleh abai, apalagi menjadikan bidang pertanian sebagai sumber daya cadangan, yang diambil ketika sumber lain krisis (ikāng thāni prītīnubhaya gunaning bhūpati lanā/ ya sangkanyang bhogān hana pakenaning rājya ya tuwi/ asing sénangluhnyékana ta tulungen haywa humeneng/ lima lwirning sākṣāt bhaya teka ri kang pora ya padem// [mensejahterakan masyarakat tani adalah kewajiban raja selamanya/ ia sebagai sumber pangan yang dibutuhkan negara/ segala yang dibutuhkan itulah dibantu, jangan hanya diam/ lima bagian sebagaimana bahaya mendatanginya, hancurkanlah//]).

            Selain kebijakan soal pentingnya pertanian, dari aspek jagat kreti atau tata kelola negara, Kakawin Ramayana Sargah XXIV menyebut persoalan etis yang patut dijadikan senjata oleh seorang pemimpin. Konsep itu disebut asta brata, ‘delapan sifat ideal pemimpin yang hendaknya meniru delapan dewa di surga’. Pemimpin idelnya hadir seperti Dewa Indra, Yama, Surya, Candra, Bayu, Kuwera, Baruna, dan Agni. Pemimpin harus mengupayakan kesejahteraan rakyat, adil, peka, menyenangkan hati, lincah, tidak korup, peka, dan tidak pandang bulu.

Sudahkah itu semua diupayakan? Pembacaan belum usai, pembumian nilai terus diupayakan.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Copyright © Media Bali 2021 | Newsphere by AF themes.