MEDIA19 dot ID

Ajeg Bali untuk Indonesia

“Kakawin Ramayana” Menembus Batas Zaman dan Wacana

3 min read

Media Bali/abd Tangkapan layar Rembug Sastra Purnama Badrawada, Minggu (22/8).

Peringatan HUT ke-38 Rembug Sastra Purnama Badrawada

Hari Ulang Tahun (HUT) ke-38 Rembug Sastra Purnama Badrawada kembali dirayakan dengan mewacanakan bersama Kakawin Ramayana. Rembug besar digelar untuk memperingati gelaran tersebut, di mana menghadirkan 11 orang pemantik yang membicarakan isi sastra Jawa Kuno terpanjang dan terindah itu dari berbagai perspektif.

Pande Putu Abdi Jaya Prawira

PERINGATAN HUT ke-38 Rembug Sastra Purnama Badrawada digelar tepat pada hari suci Purnama Katiga dan Kajeng Kliwon Pamelastali (Watugunung Runtuh), Minggu (22/8) malam secara daring. Rembug sastra “akbar” yang digelar untuk kedua kalinya itu mengajak para penikmat sastra untuk menembus batas zaman bersama Kakawin Ramayana.

Sesepuh Rembug Sastra Purnama Badrawada, IBG Agastia, hadir sebagai pembuka diskusi tersebut. Ia menuturkan, Rembug Sastra Purnama Bhadrawada pertama kali digelar pada hari purnama di bulan Agustus 1983. Menurutnya, ide awal kegiatan tersebut terinspirasi dari seorang kawannya, yang bernama I Gusti Made Widia. Kala itu, Widia mendermakan beberap bagian dari Ramayana dalam bahasa Inggris untuk diberikan pada beberapa presiden di luar negeri. Beberapa presiden pun membalas surat beliau.

“Dari sana muncul pertanyaan besar, padahal kita sendiri yang mewarisi karya sastra ini, tapi kita biarkan berada di tempat tidur kita. Kita tidak baca. Mau bagaimana ini?” kata mantan anggota DPD RI Dapil Bali ini.

Atas dasar kondisi itulah kemudian ia berpikir membuat rembug sastra yang bisa membincangkan materi-materi soal sastra dan kebudayaan Bali pada khususnya, dan Hindu pada umumnya. Ide itu pun seakan terjawab melalui epilog Kakawin Ramayana.

“Pada dpilog Kakawin Ramayana dinyatakan, ‘ngka n Ramayana bhadrawada nira mogha mawangi rumesep teke hati, byaktawas ucapanta ring julung adhomukha pinaka nimitta ning lepas‘, Dari sanalah nama bhadrawada kemudian menjadi acara rutin yang dilakukan setiap purnama ini,” jelasnya.

Tokoh yang telah menulis banyak buku di bidang sastra dan agama itu menambahkan bahwa menurut tradisi Bali pengarangnya adalah Mpu Yogiswara. Kakawin Ramayana ini dipandang sebagai kakawin tertua yang ditemui hingga saat ini. Narasimya juga sudah banyak beralih media, mulai dialihkan ke dalam relief di Candi Prambanan, ke lukisan Kamasan, hingga ke produk-produk kreatif era ini.  “Kakawin ini sampai sekarang masih disenangi dan digemari oleh sebab itu kita tidak henti-hentinya membahas ini,” katanya berharap masyarakat Bali bisa kembali membaca-baca sastra warisan leluhur untuk mengarungi bahtera zaman.

Sementara itu, 11 bahasan  yang dinyatakan oleh 11 orang pemantik dalam diskusi yang dimoderatori oleh IGA Darma Putra tampak sangat beragam, baik dari segi latar belakang, usia, hingga materi bahasan. Ada yang merupakan akademisi sepuh, rektor, hingga mahasiswa, demikian juga ada yang berasal dari kalangan praktisi sastra Bali, Penyuluh Bahasa Bali, sastrawan, penulis, hingga jurnalis. Materinya juga beragam, mulai dari persoalan etis-moral, politik, hingga feminisme dan ekologi.

Kesebelas pembicara itu adalah IBP Suamba dengan makalah “Ajaran Moral dalam Kakawin Ramayana”, Putu Eka Guna Yasa dengan makalah “Busana Sejati Pemimpin Negeri dalam Kakawin Ramayana”, Luh Yesi Candrika dengan “Figur Kekayi dalam Ramayana: Menelusuri Jejak Peran Perempuan dalam Politik”, I Dewa Gede Dharma Permana dengan makalah “Pesan Pendidikan dan Moral dalam Ramayana Uttarakanda”, dan I Wayan Juliana “Wisrawa dan Sukesi: Antara Keteguhan dan Godaan”.

Selanjutnya, jurnalis IK Eriadi Ariana (Jero Penyarikan Duuran Batur) hadir dengan makalah “Citra Sad Kreti dalam Kakawin Ramayana”, budayawan I Wayan Westa menyampaikan makalah “Nasionalisme: Kumbakarna Versus Wibhisana dalam Kakawin Ramayana”, akademisi IDG Windhu Sancaya membicarakan “Konsep Gunamantha Sang Dasarata dalam Kakawin Ramayana”, penulis Putu Adhi Ariawan menyajikan “Aspek Tantra dan Cinta Rawana dalam Kakawin Ramayana”.

Penyaji termuda adalah mahasiswa Sastra Bali Unud I Made Santika membicarakan “Putra Sasana dalam Kakawin Ramayana”. Sementara, pada kesempatan itu juga turut serta  Rektor ISBI Tanah Papua, I Dewa Ketut Wicaksana yang menyajikan “Kakawin Ramayana sebagai Sumber Lakon Wayang Kulit di Bali”.

Diskusi daring itu berjalan semalam suntuk, bahkan hingga pukul 02.00 WITA. Para peserta pun tampak sangat antusias, di mana jumlahnya sempat mencapai 150 orang. Menyimak diskusi tersebut, para peserta rembug sastra tampak sepakat bahwa keberadaan Kakawin Ramayana memang tak pernah lekang oleh gerusan waktu, terbukti dengan kenyataan bahwa Kakawin Ramayana dari abad IX hingga kini masih bisa dibaca dan dipelajari. Kakawin Ramayana telah menembus batas, digunakan sebagai pelita hidup banyak orang. abd/005

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © Media Bali 2021 | Newsphere by AF themes.