MEDIA19 dot ID

Ajeg Bali untuk Indonesia

Kesulitan Pakan, Kera Monkey Forest Mulai Masuk Desa

2 min read

GIANYAR, Media Bali – Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan ini, juga berimbas pada kenyamanan kera, binatang koloni di  Wenara Wana (Monkey forest) Padang Tegal, Ubud  yang selama ini menjadi destinasi wisata andalan. Buktinya, primata ini kini mulai  keluar kawasan hutan dan  nongol di daerah pemukiman.  Kondisi inipun  meresahkan warga, karena binatang ini cenderung galak kepada anak-anak kecil dan lari ketika melihat orang dewasa.

Dari informasi yang dierima, dalam beberapa bulan ini, kemunculan kera yang diduga berasal dari hutan Padang Tegal itu, muncul  di kawasan pemukiman hingga ke desa tetangga, seperti di Tebesaya Peliatan hingga di Banjar Kutuh Kelod, Desa Petulu.

Meskipun belum ada kasus gigitan, namun kera yang diduga lepasan dari koloninya ini, menyasar anak-anak kecil.  Sementara, dihadapan orang dewasa, kera ini memilih menghindar  melalui atap rumah warga.

Tak hanya di pemukiman warga, kera ini juga masuk ke penginapan  yang kini sepi penghuninya.  Meskipun kehadirannya tidak bergerombol, namun dipastikan ada lebih dari satu kera yang berkeliaran.  Karena dari beberapa kemunculannya, ukurannya berbeda-beda.

“Meski tidak bergerombol, tapi cukup meresahkan, terutama bagi yang memiliki anak kecil, karena kera ini tak takut apapun. Saya harap, pihak terkait mengevakuasi kera-kera ini supaya tak mengganggu warga, dan keselamatan kera juga terjamin,” ujar Yanik Andita, salah seorang warga Peliatan.

Secara terpisah, Bendesa Padang Tegal, Ubud, Made Gandra, Senin (6/9) mengakui kalau saat ini pengelola kawasan wisata kewalahan memberi pakan. Disebutnya, sebelumnya alokasi dana setiap bulan untuk kawanan monyet tersebut sebesar Rp 120 juta untuk setiap bulannya.

“Mulai beberapa bulan lalu kami mulai kewalahan memberi pakan. Sebulannya menghabiskan 120 juta,” jelas Made Gandra. Hanya saja, biaya pakan ini terus menggerogoti dana simpanan desa adat.

Dijelaskannya, sudah hampir dua tahun, obyek wisata tersebut tidak ada pemasukan sama sekali, sehingga pegawai di kawasan wisata tersebut hanya bekerja memberi pakan dan membersihkan kawasan. Dalam kondisi pariwisata normal, setidaknya dikunjungi 6.000 wisatawan per hari, sehingga pengelola kawasan antusias dalam pengelolaan.

Di kawasan tersebut, setidaknya terdapat seribuan monyet. Kawasan 26 hektar ini masih terkelola dan dihaga kebersihannya boleh sekitar 200 pegawai. “Ya, jam kerja pegawai berkurang. Ini menyesuaikan dengan kondisi,” jelasnya lagi.

Untuk meringankan biaya pakan ini, pengelola kawasan wisata mengaku sudah mengajukan permohonan ke Pemkab Gianyar untuk mensubsidi sebagian biaya pakan. “Namun sampai saat ini belum ada tanggapan, harapan kami agar bisa disubsidi sekitar 40%,” harapnya. Hanya saja diakui kondisi keuangan Pemkab Gianyar lagi seret, sehingga memaklumi tidak mendapat subsidi. 013

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Copyright © Media Bali 2021 | Newsphere by AF themes.