MEDIA19 dot ID

Ajeg Bali untuk Indonesia

Hakim di PN Gianyar Dilaporkan ke KY

2 min read
Gendo Law Office melaporkan tiga orang hakim ke Komisi Yudisial RI dan Bawas MA, Senin (13/9) kemarin.

Gendo Law Office melaporkan tiga orang hakim ke Komisi Yudisial RI dan Bawas MA, Senin (13/9) kemarin.MEDIA BALI/012

DENPASAR, Media Bali – Majelis hakim yang mengadili perkara pidana di Pengadilan Negeri Gianyar dilaporkan oleh Gendo Law Office (GLO) ke Komisi Yudisial (KY) RI dan Badan Pengawas Mahkamah Agung (Bawas MA), Senin (13/9) kemarin. Majelis hakim yang terdiri dari 3 orang itu adalah Putu Gde Hariadi, SH., MH., Ewrin Harlond Palyama, SH., MH., dan Dr. I Nyoman Agus Hermawan, SH., MH.

Pelaporan itu terkait dugaan pelanggaran kode etik dan pedoman perilaku hakim oleh majelis hakim dalam perkara Nomor 62/Pid.B/2021/PN.Gin.

“Kami menemukan tindakan majelis hakim yang tidak adil dan bijaksana. Seolah-olah ini pengadilan sesat,” kata Wayan Gendo Suardana, saat gelar konferensi pers di Denpasar.

Gendo memaparkan, majelis hakim saat persidangan dalam perkara yang ditanganinya, yakni kasus dugaan penggelapan yang menimpa kliennya John Winkel  terhadap perusahaan tempat ia bekerja senilai Rp3,1 miliar. Menurut Gendo, majelis hakim bertindak tidak adil, bertindak tidak arif dan tidak bijaksana, bertindak tidak profesional saat memeriksa, mengadili dan memutus perkara kliennya yang seorang direktur sekaligus pemegang saham (pendiri) di PT Mitra Prodin yang bergerak di bidang kertas rokok. Namun kini ia dilaporkan oleh komisaris di perusahaan tersebut, yakni Antony Rhodes.

Kasus ini sejatinya terkait hutang piutang (kasbon) yang terjadi tahun 2016-2019. Namun, kemudian berujung pada pelaporan di kepolisian hingga di meja hijaukan sejak awal tahun 2021 di PN Gianyar.

Dalam proses persidangan, Gendo melihat mulai dari proses sidang hingga putusan pada 16 Agustus 2021,  banyak hal yang mencederai asas-asas hukum dan ketentuan hukum acara pidana. Terutama dalam proses pembuktian, pemeriksaan bukti-bukti dan saksi.

Gendo menyampaikan keberatannya, antara lain, pertama, terkait status kewarganegaraan pelapor. Di mana pihak GLO mendapatkan dokumen bahwa pelapor diduga berkewarganegaraan ganda, hakim menyatakan hal itu tidak relevan, dan Gendo keberatan, tapi ternyata dalam putusan keberatan tidak dimuat.

“Ketua majelis hakim menganggap permintaan kami tidak relevan dengan kasus. Kami minta dicatat dalam keberatan, karena identitas saksi seharusnya diperiksa tapi nyatanya tidak ditulis juga,” imbuhnya.

Kedua, lanjut Gendo, hakim kembali bersikap tidak adil, tidak arif dan tidak bijaksana dengan melarang Gendo menunjukkan bukti-bukti surat saat memeriksa saksi-saksi termasuk saksi korban. Ketua majelis hakim melarang penasihat hukum saat akan menunjukkan bukti-bukti penting, yang menjadi bukti kunci membebaskan terdakwa namun ketua majelis hakim malah melarangnya. Bukti penting tersebut seperti percakapan berupa email antara saksi korban dan terdakwa yang menjelaskan bahwa terdakwa diminta perusahaan mengembalikan hutang sebesar Rp2,6 miliar dan sudah disetujui saksi korban, termasuk juga banyak bukti lainnya yang terkait kasus yang dituduhkan ke klien Gendo.

“Saat mau menunjukkan bukti percakapan, hakim bilang tidak boleh dan diminta untuk menunjukkan kepada saksi yang meringankan. Percakapan khusus di email maupun whatsapp hanya diketahui berdua antara terdakwa dengan saksi korban. Hal ini tentu melemahkan posisi terdakwa. Kami merasa majelis hakim sudah menghambat penggalian kebenaran materiil dalam persidangan,” terangnya.

Sidang putusan pun digelar tanggal 16 Agustus 2021 dengan keputusan terdakwa dinyatakan terbukti melanggar pasal 374 KUHP dan dihukum penjara 1 tahun 4 bulan.

Akhirnya, selain mengajukan banding, dan melaporkan majelis hakim ke Komisi Yudisial RI dan Badan Pengawas Mahkamah Agung, Gendo juga menembuskannya ke Komnas HAM RI, Institute For Criminal Justice Reform (ICJR) dan Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM). 012

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Copyright © Media Bali 2021 | Newsphere by AF themes.