MEDIA19 dot ID

Ajeg Bali untuk Indonesia

BI Dukung UMKM Tanah Air Sasar Peluang Negara Jepang

2 min read
Talkshow salah satunya membahas sasaran pasar fashion ke Jepang dan memperluasan wawasan pelaku UMKM.

Talkshow salah satunya membahas sasaran pasar fashion ke Jepang dan memperluasan wawasan pelaku UMKM.

DENPASAR, Media Bali-
Bali Jagadhita Culture Week (BJCW) 2021 yang merupakan agenda dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, secara daring mengadakan talkshow dengan topik ‘Breaking Through The Japanese Fashion Industry’, yang bertujuan memperluas wawasan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) bidang fashion di tanah air dan menyasar pasar negara Jepang.

Dalam talkshow tersebut melibatkan peserta kompetisi desain batik, perwakilan anggota dharma wanita se-Indonesia, dan UMKM di wilayah Bali dan Nusa Tenggara.

Menurut Kepala Departemen Pengembangan UMKM dan Perlindungan Konsumen BI Yunita Resmi Sari, penyelenggaraan talkshow selaras dengan event tahunan BI, yaitu membangkitkan Karya Kreatif Indonesia (KKI) dengan tema diusung; Sinergi, Globalisasi, dan Digitalisasi UMKM dan Sektor Pariwisata.

“BI memiliki tiga pilar kebijakan pengembangan UMKM, yakni korporatisasi, kapasitas, dan pembiayaan. Di dalam BJCW 2021 ini adalah wujud nyata pilar kapasitas yang dilaksanakan BI melalui sinergi dan dalam upaya mendorong meningkatnya akses pasar produk UMKM, baik di pasar domestik dan luar negeri,” ujarnya belum lama ini.

Ditambahkan Sari, sektor UMKM industri kreatif mendapatkan dampak negatif yang signifikan, bahkan dari penelitian SBM ITB Tahun 2020 menemukan bahwa 98% pelaku kreatif merasakan dampak negatif, dan 67% lainnya mengalami penurunan penjualan.

“Kegiatan ini pula diharapkan mampu mendorong UMKM lokal untuk dapat lebih berinovasi dan bertahan di masa pandemi,” ucap Sari.

Sedangkan, Ketua Dharma Wanita Persatuan KBRI Tokyo Nuning Akhmadi menjelaskan bahwa perkembangan di Negara Jepang atas industri fashion sebagai salah satu yang terbesar di dunia.

“Negara Jepang ini adalah rumah bagi merk fashion global dan mampu melayani berbagai permintaan konsumen, mulai dari pakaian casual dan fashion kelas atas. Jadi, hal ini menjadikan persaingan industri fashion di Jepang sangat ketat dan produk yang dipasarkan harus unik, berkualitas tinggi, serta modis agar bisa menarik minat konsumen Jepang,” jelasnya.

Nuning menambahkan sejauh perkembangan kekinian, Kimono yang menjadi pakaian tradisional Jepang juga terdampak trend fashion model barat. Karena itulah, Kimono hanya dapat dipakai di acara tertentu atau khusus. Lomba desain batik Indonesia-Jepang pun pernah diadakan untuk memadukan motif dan unsur seni budaya.

Tercatat pakar fashion sebagai narasumber talkshow ini, antara lain; Naoko Abe (pemenang Desain Batik Indonesia-Jepang), Fusami Ito (perwakilan Cross Cultural Artisan Association), Ichikawa Nami (Owner Kecak Co. Ltd), dan juga Ririko Takano (Owner of Riri & Dot).

Senada dengan pemaparan para narasumber sebelumnya, Ririko Takano menambahkan untuk dapat menembus pasar Jepang yang besar dan kompetitif, para pengusaha haruslah mengutamakan sustainability dalam penjualan produknya di mana konsumen jepang gemar membeli produk yang berkelanjutan dalam penjualannya.

“Dengan adanya talkshow ini, para pelaku usaha mendapatkan pengetahuan mengenai cara menembus pasar fashion di Jepang, menentukan target pasarnya, dan pengetahuan pengelolaan bisnis yang berkelanjutan sehingga dapat berhasil menjalankan usahanya,” demikian pungkas Ririko. 012

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Copyright © Media Bali 2021 | Newsphere by AF themes.