MEDIA19 dot ID

Ajeg Bali untuk Indonesia

MANUVER PEMURNIAN PHDI PUSAT VERSI MLB

4 min read
Manuver Pemurnian PHDI Pusat versi MLB

PHDI masa bhakti 2021-2026 versi MLB kembali nyatakan pernyataan resmi ke-4 atas keberadaan Sampradaya, Hare Krishna/ISKCON, dan Sai Baba di Bali. MEDIA BALI/IST

Tak Akui Sampradaya, Hare Krishna, dan Sai Baba/sub

DENPASAR, Media Bali – Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) versi Mahasabha Luar Biasa (MLB) terus bermanuver untuk membuktikan keseriusannya membangun jati diri umat Hindu yang bermartabat dan jauh dari sentuhan aliran Sampradaya, Hare Krishna/ISKCON, Sai Baba, dan sampradaya lainnya.

            “Bahwa PHDI hasil MLB sangat jelas bertujuan mengembalikan PHDI sebagai majelis tertinggi umat Hindu yang bersih dari Sampradaya dan lainnya, serta memperhatikan kondisi umat,” tegas Sekretaris PHDI versi MLB Komang Priambada, SE., Senin (4/10) kemarin.

            Kali ini pernyataan resmi ke-4 oleh PHDI versi MLB kembali disampaikan dan ditandatangani pengurus PHDI masa bhakti 2021-2026, Ketua Marsekal TNI (Purn) IB Putu Dunia dan Sekretaris Komang Priambada.

Disebutkan bahwa MLB sebagai suara umat Hindu Dresta Bali dan Hindu Dresta Nusantara merupakan jawaban dari kemelut umat Hindu Dharma Indonesia, karena PHDI pusat masa bhakti 2016-2021 dengan AD ART yang telah dibelokkan oleh tokoh-tokoh Sampradaya khususnya Hare Krishna dan Sai Baba telah berhasil mengkooptasi PHDI sejak tahun 1984.

            “MLB memiliki pondasi yang sangat kuat dalam Anggaran Dasar Parisada Hindu Dharma Indonesia, karena MLB ini lahir dari Pasal 28 ayat (4) yang diubah dengan Pasal 30 ayat (4) hasil Mahasabha-XI di Surabaya, yang menyatakan dalam keadaan mendesak dan demi keutuhan Parisada, dapat diadakan MLB atas usul sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah PHDI Provinsi yang ada,” tertuang dalam pernyataan resmi.

            Secara terperinci disampaikan ketentuan Pasal 30 ayat (4) Anggaran Dasar PHDI Hasil Mahasabha-XI memberi makna mendalam tentang legitimasi atas lahirnya MLB yang bertujuan untuk melakukan pemurnian PHDI sebagai rumah besar umat Hindu Nusantara, yang selama 37 tahun dicengkram, dibelenggu, dan dikotori oleh Sampradaya asing Non Dresta Bali/Dresta Nusantara.

            MLB lahir di Samuan Tiga Gianyar, Bali yang merupakan tempat bersejarah lahirnya peradaban Hindu Dresta Bali/Dresta Nusantara yang dipelopori oleh Mpu Kuturan pada abad X tepatnya 1020 tahun yang lampu.

            Disebutkan pula, MLB adalah gerakan spiritual yang mewakili suara umat Hindu Dresta Bali/Dresta Nusantara yang dijajah dan dikonversi keyakinannya agar mengikuti misi spiritual yang disebarkan oleh Sampradaya Hare Krishna/ISKCON dan Sai Baba/SSG, sehingga saat ini sudah banyak diantara kita umat Hindu Dresta Bali/Dresta Nusantara yang menjadi para militansi Sampradaya asing tersebut, yang terpaksa harus berhadapan dengan umat Hindu sebagai pejuang-pejuang dharma untuk memurnikan PHDI.

            “Jadi, MLB adalah gerakan para pejuang dharma untuk pemurnian PHDI dari Sampradaya Hare Krishna/ISKCON dan Sai Baba/SSG yang menjadi kewajiban kita bersama dalam menjalankan Dharma Negara dan Dharma Agama, yang selama ini dibiarkan tumbuh, berkembang menjadi benalu dan bahkan dirawat oleh para pengurus PHDI selama ini,” lanjutnya.

            Dalam keterangannya pula, PHDI versi MLB berniat memurnikan PHDI karena; 1. Adanya Surat Keputusan Jaksa Agung Nomor: 107/JA/5/1984, tanggal 8 Mei 1984 yang isinya ‘melarang peredaran semua bentuk dan jenis macam barang-barang cetakan dan kegiatan-kegiatan lainnya untuk mengembangkan dan menyebarluaskan ajaran yang bersumber dari kepercayaan Hare Krishna di seluruh Indonesia’; 2. Terbitnya Surat Telegram Pangdam VII Wirabuana Nomor: STR/28/1993, dan Surat Dirjen Bimas Hindu dan Budha Nomor: H./BA.01.2/142/I/1994 yang isinya mencabut Surat Izin Nomor: II/5/001/H/1983, tanggal 3 Maret 1983, untuk Yayasan Shri Sathya Sai Center Indonesia termasuk Sai Study Group, karena telah mencampur adukan semua agama menjadi pengikutnya.

            3. Hare Krishna/ISKCON bukan Agama Hindu, karena aliran ini berbeda keyakinannya dengan keyakinan agama Hindu Dharma Indonesia, dan pernyataan ini juga dikuatkan oleh pernyataan yang disampaikan oleh Prabhupada sendiri sebagai generasi penerus Hare Krishna dan pendiri ISKCON di Amerika; 4. Para pengikut Hare Krishna/ISKCON dan Sai Baba SSG adalah umat dari lintas agama, yang berpotensi besar menimbulkan konversi agama, yang dikhawatirkan menjadi pemicu konflik antar umat beragama di Indonesia.

            5. Hare Krishna/ISKCON telah merancang grand design 50 tahun, yaitu Tahun 2012-2062 yang ingin melenyapkan peradaban Hindu Dresta Bali yang adiluhung, yang menjadi bagian dari masyarakat hukum adat di Indonesia yang dilindungi UUD 1945. Misi yang ingin dicapai oleh aliran ini menuju kepada peradaban kesadaran Krishna di Indonesia; 6. Aliran Sampradaya Hare Krishna/ISKCON dan Sai Baba/SSG, tidak percaya dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebutan Tuhan dalam Hindu Dharma Indonesia, dan tidak percaya dengan ke-esa-an Tuhan karena aliran Sampradaya ini memuja manusia (gurunya) sebagai Tuhan, dan ini telah bertentangan dengan sila pertama dari Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Selain itu, pemujaan manusia sebagai Tuhan sangat dilarang di Indonesia.

            “Atas dasar fakta-fakta tersebut, PHDI masa bhakti 2021-2026 hasil MLB keputusan Samuan Tiga menyatakan tidak mengakui Hare Krishna/ISKCON dan Sai Baba/SSG sebagai penganut agama Hindu Dharma Indonesia,” tegasnya.             Hal ini dikuatkan Surat Gubernur Bali kepada Jaksa Agung tentang sikap Pemerintah Provinsi Bali terkait ISKCON di Bali tertanggal 23 September 2021 yang menyatakan bahwa Sampradaya terutama Hare Krishna/ISKCON dan Sai Baba tidak cocok di Bali karena telah melakukan perusakan atas adat, budaya, dan tradisi Bali yang ada sejak ribuan tahun. 012

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Copyright © Media Bali 2021 | Newsphere by AF themes.