MEDIA19 dot ID

Ajeg Bali untuk Indonesia

Ibudaya Festival 2021 Digelar di Bali Utara

3 min read

Ibudaya Festival 2021 Digelar di Bali Utara.MEDIA BALI/IST

Usung Tema Mula ka Mula, Diisi Seniman dan Tokoh Perempuan Ternama

DENPASAR, Media Bali  – Ibudaya Festival 2021, sebuah festival yang mengetengahkan gagasan entitas ibu-perempuan dalam memelihara, merawat, menjaga nilai-nilai yang terkandung dalam laku kebudayaan siap digelar Minggu (24/10). Festival digelar di Bali Utara di sejumlah titik bernilai sejarah.

Ibudaya Festival 2021 merupakan persembahan Dadisiki Bali, dengan penggagas Ayu Laksmi. Festival ini hadir di bawah naungan Bali Wariga, dilaksanakan Antida Music Production dan Matahari Bali Convex, serta didukung penuh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Festival mengetengahkan dua materi utama, yakni Selebrasi Budaya dan Gelar Wicara akan digelar virtual yang dipusatkan di Rumah Tua Peninggalan Belanda Buleleng.

Sejumlah seniman perempuan dijadwal akan hadir sebagai penyaji dalam selebrasi budaya, yakni Ni Luh Menek, Cok Sawitri, Ida Ayu Wayan Arya Setyani, Aryani Willems, Nyoman Tini Wahyuni, Heny Janawati, Echa Laksmi, Ida Ayu Nyoman Dyana Pani, Jasmine Okubo, Pranita Dewi, Alien Child, I Gusti Ayu Kusumayuni, Sanggar Seni Palwaswari, Ni Nyoman Srayamurtikanti, Komunitas Mahima, Ipung Dancer, serta Womb Ibudaya beranggotakan Aik Krisnayanti, Sagung Novi, Claudia, Ida Ayu Wisanti, Ni Ketut Fenty, Jesica Winanda Leksono Putri, Kharissa Sadha, Maria Murwiki, danMonique Anastasia Tindage.

Sementara itu, Gelar Wicara disajikan dengan acara diskusi kontemplatif oleh spiritualis perempuan, pakar ilmu medis, psikolog, pelaku pariwisata dan inisiator perempuan di berbagai bidang. Diskusi ini diharapkan merangsang kerja kolektif  dan menumbuhkan keinginan untuk bergerak dalam satu semangat bersama. Mereka yang dijadwal mengisi gelar wicara adalah Sandrina Malakiano, Ayu Weda, dr. I Gusti Ayu Nyoman Partiwi, SPA., MARS, dr. Luh Karunia Wahyuni, SP.KFR-K, Ni Luh Putu Ary Pertami Djelantik, Ana Anandi dan Luh Manis.

Konseptor dan direktur festival, Ayu Laksmi mengatakan Ibudaya Festival 2021 yang digagasnya mengusung tema “Mula ka Mula”. “Mula dalam bahasa Bali berarti menanam, sementara mula dalam bahasa Indonesia artinya awal, sementara ka mula dapat dimaknai ke asal atau ke akar. Secara garis besar Mula ka Mula adalah ajakan untuk pulang ke asal untuk menanam,” kata dia dalam keterangan persnya, Kamis (21/10).

Tema yang diketengahkan dalam festivak tersebut jika dikaitkan dengan konteks pandemi tiada lain sejalan dengan keberadaan manusia yang dihadapkan dengan berbagai pilihan, utamanya mereka yang dulu meninggalkan rumah untuk mencari penghidupan ke suatu tempat, secara sadar dituntut pulang. Berhenti sejenak, merenung, menghayati, kemudian memulai kembali.

“Secara filosofi dapat dikatakan kita pulang ke rahim.  Rahim kami maknai lebih luas sebagai ruang, yakni ruang penciptaan. Sejujurnya siapapun yang memiliki kemampuan untuk menciptakan, apapun itu baik berupa ide, karya, cara berfikir dan lain sebagainya, dapat dikatakan memiliki rahimnya masing-masing, terlepas dari gender,” kata dia.

BALI UTARA, “IBU” SEJARAH

Pemilihan tempat penyelenggaraan Ibudaya Festival 2021 di Buleleng tidak terlepas dari sejarah panjang yang dimilikinya. “Satu di diantaranya ialah karena nama besar Pelabuhan Buleleng pada masa kependudukan Belanda. Pelabuhan tersebut  menjadi pintu masuk utama jika ingin datang ke Bali,” kata Ayu Laksmi.

Keberadaannya yang strategis itu memberi peluang kepada orang luar untuk melakukan aktivitas perdagangan, mulai dari bangsa Eropa, China, Belanda, Arab, Bugis dan lain sebagainya. “Kegiatan di Bali Utara juga berupaya menyusur kembali ruang-ruang bersejarah, utamanya yang memancarkan energi spiritual. Lebih jauh ziarah tersebut memberi tawaran alternatif sebagai rujukan destinasi wisata spiritual di Buleleng,” kata dia.

Adapun beberapa tempatnya ialah rumah tua peninggalan Belanda, Bukit Ser, Brahmavihara Arama, Pelabuhan Buleleng, Pura Pulaki, Retreat Universal, Goa Maria Air Sanih, Pura Ponjok Batu, Pura Beji Sangsit, Pura Meduwe Karang dan  Pura Gambur Anglayang.

Ayu Laksmi berharap kegiatan tersebut dapat menjadi cermin kasih seorang Ibu dalam menjaga tradisi yang luhur, termasuk tempat atau destinasi yang memiliki nilai sejarah di Buleleng. Gerakan ini masih kecil namun harus digaungkan secara perlahan agar semua orang tahu, bahwa Buleleng memiliki sejarah menarik yang semestinya menjadi rujukan penting untuk membangun Bali. “Dari Ibu kita merawat Bali, dari Buleleng kita merawat negeri,” kata dia. 005

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Copyright © Media Bali 2021 | Newsphere by AF themes.