MEDIA19 dot ID

Ajeg Bali untuk Indonesia

Pusat Religi di Jantung Bangli

4 min read
Pusat Religi di Jantung Bangli

Pura Kehen Bangli.MEDIA BALI/IST

Pura Kehen Bangli


Kota Bangli yang saat ini menjadi kota dari Kabupaten Bangli diduga telah eksis sejak ratusan tahun silam. Salah satu yang situs yang membuktikan kekunoan kota Bangli adalah Pura Kehen yang terletak di utara Kota Bangli.

Pande Putu Abdi Jaya Pawira


PURA Kehen adalah pura yang sangat monumental di Kota Bangli. Secara administratif Pura Kehen berada di wilayah Banjar Pekuwon, Desa Cempaga, Bangli. Menurut beberapa catatan, pura kuno ini merupakan orientasi religi masyarakat di kawasan Kota Bangli untuk melakukan pemujaan kehadapan Sang Maha Pencipta yang memberikan anugerah keselamatan dan kemakmuran untuk dunia.

Keberadaan Pura Kehen tercantum dalam tiga prasasti Bali Kuno yang dikenal dengan nama Prasasti Kehen A, Prasasti Kehen B, dan Prasasti Kehen C. Ketiganya disimpan di Panyimpenan Pura Kehen. Prasasti Kehen A memuat nama-nama biksu serta tiga nama pura di masa kuno, yakni Hyang Api, Hyang Karimana, dan Hyang Tanda. Kata hyang dalam penjelasan prasasti itu merujuk pada makna kawasan suci atau pura saat ini.

Selanjutnya, Prasasti Kehen B saat ini kondisinya dalam keadaan rumpang. Ada lembaran yang hilang, sehingga yang terbaca hanya nama-nama pejabat kerajaan di masa silam. Terakhir, Prasasti Kehen C menjadi sebuah prasasti yang cukup komprehensif untuk mengetahui dimensi kerohanian masyarakat Bangli tempo dulu, termasuk keberadaan Pura Kehen.

Pura Kehen, dalam Prasasti Kehen C disebut dengan nama Hyang Kehen. Upacara di pura ini jatuh setiap Purnama Kalima dengan sarana kebo cemeng (kerbau hitam). Adapun Prasasti Kehen C dalam penjelasannya itu dikeluarkan oleh Raja Ida Bhatara Guru Sri Adi Kunti Ketana, pada hari Soma Kliwon Krulut tahun 1126 Saka atau 1204 Masehi. Pemujaan di Hyang Kehen dan sederet pura lainnya dalam prasasti harus dilakukan oleh Karaman i Bangli (masyarakat Bangli).

Upacara yang dilaksanakan setiap Purnama Kalima itu oleh masyarakat Bangli disebut Ngusaba Ida Bhatara Turun Kabeh, hanya saja kini dilaksanakan setiap tiga tahun sekali dengan mengambil tingkatan utama, sedangkan untuk piodalan di Pura Kehen diselenggarakan setiap Buda Kliwon Sinta yang disebut juga sebagai Pagerwesi. Persembahyangan juga dilaksanakan masyarakat secara rutin saat Purnama-Tilem, Buda Kliwon, odalan Saraswati, dan hari-hari suci lainnya. Ngusaba Turun Kabeh tahun 2021 sudah dilaksanakan pada Purnama Kalima (20/10) belum lama ini.

Jika ingin memasuki pura, pamedek harus melewati kori gelung atau candi kurung yang megah, dengan berbagai arca yang berderet di sekitar. Dari madya mandala ke utama mandala barulah melewati candi bentar. Tembok menuju utama mandala pun dihiasi dengan berbagai tempelan piring keramik. Secara umum di utama mandala dan madya mandala terdapat jajaran palinggih, dan bangunan penunjang upacara lainnya, sementara di sebelah timur pura terdapat kompleks pawaregan atau dapur suci yang digunakan untuk mempersiapkan segala jenis masakan, dan jajanan yang akan dipergunakan dalam upacara.

Jajaran palinggih yang ada di Pura Kehen, dimulai dari sebelah barat ke timur menghadap utara adalah Pasamuhan Prapen dan Ratu Gede Pande, yang memiliki fungsi dalam pembuatan senjata dan peralatan perang, Ratu Manik Tirta yang memiliki fungsi sebagai penjaga mata air, Ratu Maspahit, Ratu Gunung Agung,serta Ratu Ngrurah Sakti yang berdiri megah dengan wujud meru beratap tumpang 11. Palinggih inilah yang merupakan bangunan utama sebagai stana Ida Bhatara Hyang Sakti Kehen. Di sebelah timur meru tumpang 11 terdapat Palinggih Ratu Ngurah, Ratu Hyang Ukir, Ratu Corong Agung, Ratu Gunung Sari, Ratu Gunung Tengah yang merupakan stana Bhujangga Sakti, Ratu Gunung Kaloka, dan Ratu Gede Sima yang berfungsi sebagai penegak hukum.

Palinggih lainnya ada di deretan sebelah timur menghadap barat. Jajaran palinggih itu dari sebelah utara dimulai dengan Sanggaran atau Padmasana dengan 3 ruang, Ratu Taman Sari, Ratu Gede Penyarikan, Ratu Pasek Tugu, Ratu Pasek Majembul, dan Ratu Dahaning Gunung. Selain itu di wilayah utama mandala juga terdapat sepasang pangaruman di sebelah kanan dan kiri meru tumpang 11 yang menjadi stana Bhatara Bukit Jati dan Hyang Karimama pada saat hadir dalam upacara di Pura Kehen. Bangunan lain di antaranya bale panggungan, paselang, pasamuhan ajeng, Palinggih Dasar, pawedaan, dan bale pelipid.

Di luar palinggih di utama mandala terdapat pula palinggih di jaba pura. Palinggih itu adalah stana Ratu Mas Subandar yang kental dengan budaya Cina. Selanjutnya ada bale pasangkepan, bale pawayangan, bale gong, Palinggih Ratu Manik Aseman, Ratu Mas Ayu Panganten, Ratu Kebo Suih, Ratu Sanding Bingin, dan bale agung. Pada bagian tengah pura ini juga terdapat bale kulkul dan sebuah kulkul keramat yang tergantung di pohon beringin.

Pura Kehen memiliki 33 orang pemangku yang mempunyai tugas dan kewajiban dibedakan atas dua golongan yakni dangka dan pamaksan. Dangkaterdiri dari 16 orang pemangkuyang memiliki kewajiban khusus terhadap perampian dan palinggih di jeroan, sedangkan 17 orang pamaksan mempunyai tugas membantu dangka. Ketiga puluh tiga orang pemangkuini dipimpin oleh JeroGedeKehendan JeroPasek. Sedangkan, berbagai bentuk upacara di Pura Kehen disokong oleh satu kesatuan masyarakat yang disebut Gebog Domas dan Bebanuan yang terdiri atas 23 banjar di wilayah Kecamatan Bangli dan Susut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Copyright © Media Bali 2021 | Newsphere by AF themes.