MEDIA19 dot ID

Ajeg Bali untuk Indonesia

PHDI MLB Tetap Konsisten, Proses Mejaya-jaya WBT Tidak Miliki Pengaruh

3 min read

Pengurus PHDI Pusat versi MLB tidak terpengaruh tindakan mejaya-jaya dari WBT, Kamis (25/11).

DENPASAR, Media19.id- Meski Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya (WBT) sudah melaksanakan prosesi mejaya-jaya di Pura Agung Besakih, Sabtu (20/11) lalu, juga mengklaim terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus PHDI Pusat masa bakti 2021-2026, dan sukses menggelar Mahasabha XII di Hotel Sultan, Jakarta.

Ternyata fakta tersebut tidak menyurutkan sikap Ketua Pengurus Harian PHDI versi Mahasabha Luar Biasa (MLB) masa bakti 2021-2026, Marsekal TNI (Purn) Ida Bagus Putu Dunia. Baginya, Presiden RI Joko Widodo dalam video yang ditampilkan pada Mahasabha XII, adalah wujud penghormatan terhadap organisasi PHDI dan umat Hindu di Indonesia.

“Kita di organisasi PHDI mengacu kepada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD ART), sedangkan kehadiran Presiden RI Joko Widodo (melalui video) saat Mahasabha XII adalah menghormati umat Hindu di Indonesia dan menghormati PHDI secara organisasi. Jadi, apa isi dari Mahasabha XII itu adalah masalah internal, apakah itu mengganti pengurus, siapa menjadi pengurus, bagaimana AD ART, beliau (Presiden Jokowi) tidak ikut campur masalah tersebut. Jadi, harus dipisahkan kehadiran beliau dengan  apa hasil dari Mahasabha tersebut,” terang Dunia, Kamis (25/11/2021).

BAJU PUTIH – Ketua Pengurus Harian PHDI versi Mahasabha Luar Biasa (MLB) masa bakti 2021-2026, Marsekal TNI (Purn) Ida Bagus Putu Dunia.

Ia menjelaskan, konteks dalam prosesi mejaya-jaya bukan berarti individu dalam organisasi benar-benar sah menjadi Ketua PHDI Pusat. Oleh sebab itu, mejaya-jaya yang dilakukan WBT cenderung menjadi tindakan rasa syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa.

“Di dalam AD ART tidak ada menyebutkan bahwa jika sudah mejaya-jaya berarti sudah sah diterima, tidak ada menyebutkan harus mejaya-jaya. Sebab, itu adalah masalah niskala, dan mejaya-jaya sebagai rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa,” jelasnya.

Ditambahkan Dunia, umat dan tempat suci umat Hindu Bali harus benar-benar dijaga, jangan sampai nilai-nilai kesakralannya menghilang. Alam, budaya, dan manusia Bali jangan sampai meredup karena ulah kelompok atau oknum yang tidak memahami aturan bagaimana semestinya hadir ke lingkungan pura.

“Prosesi di Pura Besakih, kan itu ada tata aturannya, seperti datang dengan pakaian sembahyang dan dimana harusnya kita duduk. Mereka (kelompok WBT) datang membawa pengawalan berarti ada yang akan tidak aman, sampai membawa pengawalan begitu. Dan siapa yang boleh naik Bale Gajah, itu kan ada ketentuannya dan aturannya,” tambahnya.

I Dewa Gede Surya Anom dari Swastika Bali mewakili Aliansi Hindu Nusantara (AHN) menambahkan, kelompok dari WBT yang melakukan mejaya-jaya bukan berarti sudah resmi menjadi kelompok sah di tubuh PHDI. Proses yang dilakukan kelompok WBT, tidak ada kaitannya dengan PHDI MLB 2021-2026.

“Intinya untuk masalah mejaya-jaya itu adalah masalah privat dari mereka, kita dari PHDI tidak ada kewajiban untuk menanggapi apa-apa. Sebab, tujuan mejaya-jaya itu sendiri ke ranah niskala. Apalagi, kalau ada istilah yang sudah mejaya-jaya artinya yang sah, ya tidak demikian juga, tidak ada itu dalam AD ART,” tambahnya.

Kata Surya Anom, sebaliknya jika kelompok PHDI dari WBT keberatan adanya kegiatan MLB mereka harus mencermati kembali isi AD ART. Sejak MLB, pihak WBT sudah tidak ada menjabat di PHDI Pusat, atau istilahnya demisioner sejak 24 Oktober 2021.

“Karena MLB ini ada di AD ART, kalau mereka sebut ini salah, ya mereka harus mencari pembenaran kepada tingkat yang bisa memutuskan ini benar atau salah, yaitu pengadilan. Harusnya mereka ke pengadilan dan perlu diingat bahwa negara kita ini adalah negara hukum. Tidak bisa mereka ujug-ujug melaksanakan Mahasabha ke-XII, kalau semua masyarakat seperti itu ya bisa hancur negara kita. Artinya Mahasabha ke-XII itu kan dilakukan mantan pengurus PHDI,” tegasnya.

Wujud keseriusan PHDI Versi MLB demi menjaga adat budaya dan tradisi turun-temurun masyarakat Bali.

Juru Bicara PHDI Pusat versi MLB, Wayan Bagiarta Negara berharap hasil daripada mejaya-jaya yang tersebar luas berupa video dan fotonya di media sosial telah dilihat semua umat. Utamanya seperti Bale Gajah, tentu tidak sembarang orang boleh naik, dan tata tertib memasuki Pura Agung Besakih sudah jelas diketahui umat bagaimana teknisnya.

Bagiarta tak ingin ke depan aturan dan batasan demi menjaga adat tradisi di Pura Besakih, malah dilanggar oleh oknum yang semestinya memberi contoh yang baik terhadap umat.

“Apa yang kita lihat, saksikan, dan kita alami saat Hari Raya Kuningan, Sabtu (20/11) lalu, di mana acara ini dibuat sedemikian rupa, mengapa dibuat saat umat Hindu Bali melaksanakannya di Hari Raya Kuningan? Ke depan supaya hal begini tidak menjadi yuris prudensi umat Hindu, mana yang boleh dan tidak boleh,” pungkasnya. 012

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Copyright © Media Bali 2021 | Newsphere by AF themes.