MEDIA19 dot ID

Ajeg Bali untuk Indonesia

Memuliakan Danau dari Narasi ke Aksi

4 min read

I Putu Oka Suyasa (Lingkar Studi Batur)

SEJAK awal Desember 2021 kami, Lingkar Studi Batur, diajak untuk ikut dalam gelaran Sastra Saraswasti Sewana (SSS) 2022 yang diinisiasi Yayasan Puri Kauhan Ubud. Tahun ini SSS 2022 mengambil tema “Toya Uriping Bhuana, Usadhaning Sangaskara [Air Sumber Kahidupan Penyembuh Peradaban]”. Setelah beberapa kali berdiskusi mengenai konsep dan bentuk kegiatan, kami akhirnya ikut serta sebagai penyumbang kajian dalam pembentukan kertas akademik untuk rencana aksi. Dalam hal ini kami sangat sepakat dan mendukung kegiatan tersebut, Lingkar Studi Batur sejalan dengan konsep SSS 2022 yakni menjabarann nilai-nilai dasar sebagai pedoman dalam melakukan aksi-aksi nyata.

              Setelah bergulat dan berdiskusi yang intens, kami akhirnya berhasil menyusun konsep tulisan yang akan kami ajukan. Tulisan yang kami tulis kemudian berjudul Danu Pakreti; Angraning Tirtha Sangaskara yang memiliki arti “Pemuliaan Danau sebagai Hulu Peradaban Air Bali”. Sebagai dasar pikir, kami memandang danau sebagai sumber resapan air penting bagi suatu daerah. Kami berharap tulisan kami dapat menjadi pijakan dalam upaya penggalian, penguatan, dan pengembangan nilai-nilai peradaban terutama dalam pemuliaan air.

              Upaya yang menjadi dasar aktivitas ritual dalam hal pemulianan air di Batur, dapat ditelaah dari beberapa teks di antaranya, Sri Purana Tattwa yang menempatkan entitas Dewi Danuh sebagai pusat orentasi pemujaan tertinggi bagi masyarakat agraris. Kemudian, Raja Purana Pura Ulun Danu Batur, khususnya Purana Tatwa, yang menegaskan penciptaan Gunung Batur di tengah–tengah danau melalui proses magis, disusul terbentuknya Tirta  Mas Mampeh. Ada juga teks Pretekaning Usana Siwa Sasana, Babad Patisora, dan Pengaci-acin Ida Bhatara, yang menjelaskan teknis pemuliaan Bathari Dewi Danuh dan Danau Batur melalui jejaring pasihan. Keberadaan teks ini menjadi suatu pedoman dasar bagi masyarakat setempat untuk melakukan pemuliana contohnya adalah kegiatan danu kreti di mana masyarakat menyebutnya bakti pekelem. Ritual ini dilakukan setiap 5 tahun sekali, 10 tahun sekali, 30 tahaun sekali, dan 100 tahun sekali.

              Selain sastra tertulis, masyarakat juga masih memelihara legenda atau mitos terkait pemuliaan air dan entitas keberadaan resapan air di sekitar Danau Batur. Sebagai contoh adalah mitos Ida Ratu Mas Membah, yang mengisahkan proses Ida Bhatari “menjual” air ke beberapa desa, dari penjualan tersebut respons masyarakat terhadap penjualan air, konon mempengaruhi keberadaan air di wilayah-wilayah desa tersebut.

              Sejalan dengan wacana indah teks-teks tersebut, saat ini keadaan air Danau Batur mengalami ancaman permasalahan lingkungan. Pencemaran yang diakibatkan oleh aktivitas perikanan, pertanian, termasuk alih fungsi lahan sudah terlihat. Sampai saat ini air di Danau Batur telah mengalami pencemaran sedang sehingga air danau tidak layak untuk di konsumsi. Selain itu juga ada pendangkalan, sehingga kedalaman Danau Batur terkonfirmasi tinggal 58 meter. Permasalahan ini tentu menjadi ancaman bagi keberlangsungan air di Danau Batur.  Untuk itu, perlu suatu ide dan gagasan nyata dalam upaya konservasi terhadap keberadaan Danau Batur.

              Kami merekomendasikan sejumlah ide dan gagasan dalam melakukan langkah-langkah konservasi terhadap lingkungan di Kaldera Batur, khususnya Danau Batur. Konsep solidaritas hulu dan hilir yang sudah diterapkan di Desa Batur dan krama subak dapat diambil. Konsep ini lebih dikenal dengan istilah Pasihan Ida Bhatara Sakti Batur, suatu jejaring komunitas angraris yang berhulu ke Danau Batur.  Pada praktiknya ada kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepada krama subak sebagai anggota pasihan, yang sebelumnya sudah ditetapkan dalam batas-batas kewilayan yang tegas. Selain mendapat berkah air secara fisik, anggota pasihan juga berhak untuk mendapatkan tirta ngendagin (mulai menanam), tirta nangkluk merana (mengatasi wabah), dan tirtha pakuluh (pascapanen).  Sementara, krama subak bersangkutan memiliki tanggung jawab untuk memberikan persembahan yang akan digunakan untuk ritual Ngusaba Kadasa. Jadi, terlihat bahwa terdapat hubungan timbal balik yang dipraktikkan oleh masyarakat hulu dan hilir, untuk saat ini semangat solidaritas ini perlu diadopsi sebagai suatu konsep hubungan timbal balik antara masyarakat pegunungan dengan masyarakat pesisir, terlepas dari konsep agraris.

              Selain semangat solidaritas pasihan, kami juga menekankan revitalisasi konsep alas kekeran, yang merupakan suatu “hutan lindung adat”. Di Desa Adat Batur, menurut Palinggih Dane Jero Gede Batur Duuran dalam wawancara pada tgl 23 Januari 2022, dikatakan bahwa Desa Batur memiliki alas kekeran yang disebut Sampian Wani, hutan ini dilindungi oleh masyarakat adat, di mana kegiatan dibatasi dan tanaman yang ditanam digunakan untuk menunjang pelaksanaan ritual upacara. Untuk itulah keberadaan alas kekeran bagi masyarakat adat sangat penting dalam upaya pelestarian lingkungan karena masyarakat dapat ikut secara langsung menjaga dan melestarikan lingkungan di sekitarnya.

              Contoh nyata tentang konsep ini juga hidup di Pura Alas Arum Batur. Caranya, beberapa tahun terakhir pangemong pura turut membagikan tanaman buah kepada masyarakat pangempon pura saat pujawali Sasih Kasanga. Bibit itu diharapan bisa ditanam di ladang masing-masing dan memberikan manfaat secara ekologis terhadap lingkungan dan manfaat ekonomi kepada masyarakat yang merawat.

              Jadi, dalam kegiatan SSS, kami mencoba menawarkan konserp konservasi yang berbasis pada tradisi masyarakat Desa Adat Batur. Kami juga perlu menyatakan pesan etis yang dapat ditemui dalam salah satu rangkaian upacara Ngusaba Kadasa, yakni bakti titi suara. Pada ritual itu, seorang tetua desa akan menyatakan bhisama Ida Bhatarayang berbunyi, “Mula kliki mula biyu, mula abedik mupu liu”. Kalimat itu kurang lebih dapat diartikan “apa yang kita tanam, walaupun sedikit akan menghasilkan sesuatu yang lebih”. Untuk itu, mari melakukan hal yang bisa menjaga lingkungan agar tetap lestari walaupun hal itu kecil, tapi lama-kelamaan akan bermanfaat besar kepada alam dan lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Copyright © Media Bali 2021 | Newsphere by AF themes.