MEDIA19 dot ID

Ajeg Bali untuk Indonesia

Forkom Taksu Bali Kritisi Pandita VPA Jadi Pengurus di PHDI

2 min read

IST - Sekjen Forum Komunikasi Taksu Bali Khismayana Wijanegara, SH.

DENPASAR, Media19.id- Sekretaris Jenderal (Sekjen) Forum Komunikasi Taksu Bali Khismayana Wijanegara, SH., menyatakan tetap bertahan membela eksistensi Hindu Dresta Bali, meski diduga ada gerakan hendak melapor para pihak yang menentang keberadaan Sai Baba dan Hare Krishna (ISKCON) di Bali.

Diterangkan Khismayana, pasca terbentuk PHDI Bali versi WBT, yang mana berisi oknum pengurus lama dan hanya berganti jabatan, diduga ingin mempidanakan pihak yang mendemo mereka dari Tahun 2020, persisnya atas persoalan yang menentang keberadaan Sai Baba dan Hare Krishna (ISKCON) di wilayah Bali, terutama menyangkut keberadaan Veda Poshanam Ashram (VPA) atau organisasi pandita kelompok Sai Baba di seluruh Indonesia.

Kata Khismayana, langkah kelompok PHDI Bali versi WBT, bahkan diduga menjadi ancaman terhadap eksistensi Hindu Dresta Bali, terlebih kelompok dimaksud diduga menggerakan kelompok mahasiswa yang konon belum memahami seluk beluk persoalan Hindu Bali. “Hal ini tidak akan membuat mundur 35 elemen dari organisasi masyarakat (Ormas) dalam Forkom Taksu Bali,” ucapnya, Senin (11/4/2022) kemarin.

Bahkan, Khismayana mensinyalir pengalihan isu berkembang terhadap masalah sebenarnya tentang bahaya eksistensi Hindu Dresta Bali atau Hindu Nusantara dari Kelompok Sai Baba, diduga karena sudah merecoki ranah ritual Hindu Bali yang disuarakan sejak Tahun 2020.

“Dugaan hal-hal mendasar tentang keberadaan Sampradaya atau agama Sai Baba tidak pernah dibicarakan dan dalam Mahasabha PHDI XII versi WBT, justru mereka diduga mengorbankan keberadaan para tokoh ISKCON (Hare Krishna di dalam tubuh PHDI Pusat dan tetap menampung kelompok Sai Baba,” katanya.

Lebih lanjut, dalam AD/ART PHDI Pusat versi WBT, Khismayana menyebutkan Pasal-pasal tentang pengayoman Sampradaya sudah dihilangkan, akan tetapi justru keberadaan kelompok Sai Baba ini di dalam kepengurusan PHDI diduga semakin menggurita. Hal ini tentu perlu kepekaan dan disadari bersama umat Hindu Bali.

“Jadi, bilamana dianalogikan bagaimana bisa UU anti narkoba dapat ditegakkan kalau penegak hukumnya sendiri merupakan pengedarnya? Beberapa contoh lainnya adalah ada sekitar 5-6 Sulingguh bergelar ‘Agni’ yang bernaung di bawah VPA notabene berafiliasi kelompok Sai Baba, bahkan Ketua Sabha Walakanya sendiri adalah Penasehat VPA di Sulawesi Tenggara, dan juga banyak tokoh Sai Baba duduk di kepengurusan baik di Walaka dan Pengurus Harian,” paparnya.

Keberadaan PHDI diharapkan mampu menguatkan kedudukan, termasuk peran adat Bali sebagai dasar pedoman pelaksanaan dresta gama-nigama Bali, dan menjaga tradisi budaya Hindu Dresta Bali dari pengaruh ajaran Sai Baba dan Hare Krishna (ISKCON) yang saat ini banyak diikuti oleh para tokoh dan akademisi yang berasal dari Bali sendiri. 012


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Copyright © Media Bali 2021 | Newsphere by AF themes.