MEDIA19 dot ID

Ajeg Bali untuk Indonesia

Kebutuhan Uang Rupiah Meningkat Jelang Idul Fitri 1443 H, BI Siapkan Uang Layak Edar Sampai Rp4.900 Miliar

3 min read

Kepala Perwakilan BI Prov. Bali Trisno Nugroho (tengah) dalam suasana Capacity Building media, Kamis (22/4/2022).

DENPASAR, Media19.id- Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali Trisno Nugroho, menerangkan bahwa kebutuhan uang Rupiah dalam transaksi di masyarakat jelang Hari Raya Idul Fitri 1443 H sangatlah tinggi.

Ia menuturkan kebutuhan uang tunai di masyarakat, diperkirakan meningkat bulan April 2022 dengan proyeksi sebesar Rp1.524 Miliar, meningkat Rp1.407 miliar atau 277%, apabila dibandingkan dengan rata-rata per bulan pada Triwulan I Tahun 2022.

“Maka untuk memenuhi kebutuhan dimaksud, BI sudah menyediakan uang layak edar dalam jumlah dan pecahan yang cukup besar Rp4.900 miliar atau 4 kali lebih besar dari kebutuhan,” ucap Trisno Nugroho, Kamis (21/4/2022) di sela-sela kegiatan Capacity Building media dengan tema ‘Digitalisasi Pengelolaan Uang Rupiah’ guna meningkatkan pemahaman mengenai pengelolaan uang rupiah kepada insan media di Provinsi Bali.

Lanjut Trisno,pengelolaan uang tunai adalah fungsi klasik dari Bank Sentral sebagai Bank Sirkulasi. Dari itulah, BI selalu berupaya menyempurnakan kebijakan pengelolaan uang Rupiah melalui pengembangan infrastruktur berbasis teknologi terkini.

“Di mana tujuan penguatan ini antara lain untuk menjaga kualitas uang yang beredar, menurunnya rasio temuan uang palsu, efisiensi distribusi uang, pemenuhan uang masyarakat berbasis spasial, dan digitalisasi pemrosesan uang Rupiah,” tegasnya.

Sementara itu, Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Agus Sistyo Widjajati selaku narasumber menjelaskan atas adanya 3 pilar pada digitalisasi pengelolaan uang rupiah, yakni; 1. Ketersediaan uang Rupiah yang berkualitas dan terpercaya; 2. Sistem distribusi yang efisien dan layanan kas prima; dan 3. Infrastruktur pengelolaan uang Rupiah yang memadai dan berbasis teknologi.  

“Proses digitalisasi yang sudah dan akan dilakukan, diharapkan dapat mengoptimalkan teknologi di seluruh tahapan PUR yang terdiri dari; perencanaan, pencetakan, pengeluaran, pengedaran, pencabutan dan penarikan, serta pemusnahan,” katanya.

Tercatat dalam proses perencanaan, digitalisasi dilakukan pada estimasi kebutuhan uang dan currency design e-catalogue. Currency design e-catalogue akan berisikan dokumentasi dari uang yang pernah dicetak. Pada proses pencetakan, terdapat digitalisasi dalam rangka meningkatkan pengamanan pada uang yang dicetak. Salah satu digitalisasi yang akan dilakukan adalah menerapkan optical banknote inspection system guna melihat apakah uang layak edar atau tidak. Pada proses pengedaran, salah satu digitalisasi yang dilakukan adalah penerapan digital tracking untuk mengetahui posisi uang yang sedang didistribusikan.

Lebih lanjut, digitalisasi dilakukan pada Uang Peringatan Kemerdekaan 75 Tahun Republik Indonesia pecahan Rp75.000 (UPK 75 RI). Digitalisasi UPK 75 RI di antaranya; 1. Penggunaan dourable paper; 2. Adopsi teknik pewarnaan dengan tinta varnish; 3. Penggunaan benang pengaman micro lens, dan; 4. Penggunaan tinta optically variable magnetic ink spark.  

“Hal ini yang membawa UPK 75 RI dinobatkan sebagai finalis best commemorative currency awards 2022,” jelasnya.

Selanjutnya, BI rutin memberikan edukasi untuk mengenal rupiah. Salah satu proses digitalisasi yang dilakukan pada tahap ini adalah dengan meluncurkan aplikasi ARupiah sebagai media edukasi Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah berbasis teknologi Augmented Reality. Aplikasi ini diharapkan dapat membantu masyarakat mengenal rupiah dengan cara yang asyik, yakni dengan bermain.  

Proses penukaran uang rupiah juga tidak luput dari digitalisasi yang dilakukan. Bank Indonesia telah meluncurkan aplikasi Penukaran dan Tarik Uang Rupiah (PINTAR) untuk mempermudah masyarakat dalam melakukan pemesanan penukaran uang.  

“Uang merupakan simbol kedaulatan bangsa, sehingga harus selalu dijaga. Hal inilah yang mendasari BI membuka layanan penukaran uang dengan harapan uang yang beredar di masyarakat memenuhi kualitas soil level (tingkat kelusuhan) yang ditetapkan, yakni uang pecahan kecil dengan soil level 6-8 dan uang pecahan besar dengan soil level 8-10,” demikian pungkas Agus. 012


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Copyright © Media Bali 2021 | Newsphere by AF themes.