MEDIA19 dot ID

Ajeg Bali untuk Indonesia

Wapres K.H. Ma’ruf Amin Lepas Tukik Demi Jaga Kelestarian Alam Laut

2 min read

Suasana pelepasan tukik oleh Wapres K.H. Ma'ruf Amin bersama Ibu Hj. Wury Ma'ruf Amin, Selasa (10/5/2022) di belakang KBSTCC, Badung.

BADUNG, Media19.id- Pelepasan anak penyu atau tukik di pesisir Pantai Kuta, Badung, dilakukan Wakil Presiden (Wapres) K.H. Ma’ruf Amin bersama Ibu Hj. Wury Ma’ruf Amin, dengan harapan terwujudnya kelestarian penyu di alam laut bebas.

Sejumlah tukik yang dilepas mengambil tempat di Pesisir Pantai Kuta, atau persisnya di titik belakang Kuta Beach Sea Turtle Conservation Center (KBSTCC), Badung, dimana diawali doa bersama untuk memanjatkan harapan kelestarian hidup penyu ke depannya.

Selama ini penyu di alam bebas memiliki banyak tantangan untuk hidup dewasa lebih lama, baik gangguan perubahan iklim, predator di laut, dan tangan jahil manusia untuk dijual atau ada yang dikonsumsi.

Wapres  Ma’ruf Amin dan Ibu Hj. Wury Ma’ruf Amin sekaligus juga didampingi oleh Staf Khusus Wapres Bidang Komunikasi dan Informasi Masduki Baidlowi, dan Tim Ahli Wakil Presiden Farhat Brachma, dengan penuh senyuman melepas tukik secara perlahan ke alam bebas, lalu diikuti langkah alami para tukik ke arah laut.

Sedangkan, Founder Kuta Beach Sea Turtle Conservation Center (KBSTCC) I Gusti Ngurah Tresna mengatakan dia turut memandu jalannya pelepasan anak penyu atau tukik dan mengajak seluruh peserta yang hadir untuk meneriakkan semangat yel-yel ‘Go Baby Go… Go Baby Go…’.

Kata Gusti Ngurah, siklus hidup penyu yang nantinya akan kembali lagi ke tempat di mana pertama penyu tersebut menetas.

“Habitat penyu ada di tengah laut, 60 jam berenang, empat hari tidak makan berenang terus, nantinya 25 tahun kemudian akan kembali ke tempat menetas,” ucapnya.

Ia menambahkan selaku pengelola tukik yang sudah mengabdi selama 20 tahun, dia menyayangkan rentannya siklus hidup penyu membuat tidak banyak anak tukik mampu bertahan hidup. “Only one (hanya satu) yang dapat survive (bertahan hidup) dari 1.000 anak penyu,” tambahnya.

Relawan terlatih dari KBSTCC Yossy Wijaya menuturkan momentum serupa terkait mitologi dari penyu dimaksud, di mana penyu dianggap membawa berkah dan menjadi penjaga di laut bawah.

“Maka penyu sendiri secara mitologi memiliki mitos sebagai pembawa berkah keberuntungan dan usia panjang serta sebagai penjaga laut dan bumi ini, dan secara ekologi kehidupan laut, mereka adalah indikator bahwa pinggiran laut itu sehat airnya dan bebas polusi sehingga aman untuk berenang dan berwisata,” tutur Yossy.

Untuk diketahui, terbentuknya KBSTCC ini adalah upaya dalam proses perlindungan satwa penyu yang datang bertelur di Pantai Kuta. Upaya perlindungan baik konservasi relokasi telur penyu, sampai proses menetas, dan akan dilepas kembali ke laut usai penetasan.

Proses dimaksud secara edukatif dan praktikal dilakukan oleh para pengurus KBSTCC dan didampingi pula I Wayan Wiradnyana selaku Founder Bali Sea Turtle Society (BSTS). 012


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Copyright © Media Bali 2021 | Newsphere by AF themes.